Friday, August 30, 2013

Wati

Wati menghambur keluar dari dalam rumahnya sambil berteriak-teriak. Tubuhnya yang agak tambun dibawanya berlari menuruni lembah. Kedua tangannya mengangkat rok lebarnya tinggi-tinggi hingga kemaluannya nyaris kelihatan. Wati memang jarang pakai celana dalam.

Wati terus berlari menuruni lembah menuju sungai. Cairan kental berwarna merah kehitaman mulai meluncur turun dari selangkangannya, merayapi paha dalamnya hingga ke betis. Wati semakin panik. Kini ia berlari sambil merenggangkan kedua kakinya. Air matanya mulai jatuh.


Begitu tiba di bibir sungai yang dangkal, Wati segera saja meloncat turun. Di sana Wati berjongkok sambil memeluk lututnya, menyelesaikan tangis ketakutannya, dan terus berdiam di aliran sungai hingga menstruasinya selesai.

Thursday, August 29, 2013

Kopi yang Hampir Dingin

“Kopimu sudah hampir dingin, Mas.” Terdengar suara istrinya yang lembut di belakang telinganya. Tapi ia sama sekali tidak bergerak untuk mengambil gelas belimbing berisi kopi yang ada di meja di sebelahnya. Ia hanya mengedip dua kali.

Lelaki itu ingin sekali menolehkan kepalanya dan melihat wajah istrinya. Bahkan ia ingin sedikit mengecupnya dan mengucapkan terima kasih untuk setiap gelas kopi yang istrinya sajikan setiap pagi dan sore hari. Tapi ia takut. Ia takut tak dapat menemukan wajah istrinya di sana. Ia takut itu hanya khayalannya belaka.

“Kopimu sudah hampir dingin, Mas.” Suara istrinya terdengar lagi. Kali ini diiringi semilir wangi melati.

Tuesday, August 27, 2013

CEMBURU

Ini sudah kali kelima perempuan itu mengibaskan rambutnya dan membasahi bibirnya yang sama sekali tidak kering, padahal belum genap sepuluh menit kami hadir di hadapannya. Wangi shampo dan parfum murahannya mencemari udara setiap kali ia bergerak. Dan yang kumaksud bergerak adalah memutar bahunya, menghentakkan kakinya, mencondongkan dadanya, dan menggerakkan pinggulnya. Ya Tuhan, hanya kau yang tahu mengapa lelakiku menyukai perempuan ini.

Tangan lelakiku mulai menyentuhnya. Tidak! Pegang saja aku, jangan pegang dia!

Lelakiku lalu mencium bibirnya. Jangan dia! Cium aku saja!

Lalu ia menyerahkanku kepada perempuan itu.


Si perempuan memekik bahagia melihatku, tangannya terulur menjemputku, kusambut dia dengan duri tajamku.

Monday, August 26, 2013

Toilet Wanita

“Eh, kalian tahu enggak sih kalau si Marni bakal dipromosikan jadi executive secretary?” kata seseorang.

“Masa sih? Dia kan baru dua bulan di sini! Kok bisa?” tanya seorang yang lain.

“Ya bisa aja lah. Emang kamu enggak tahu kalau si Marni ada affair sama big boss?” jawab yang lain lagi.

“Masa sih? Kurang ajar! Dasar perempuan jalang!”

Dan nada-nada nyinyir terus meluap dari mulut mereka.

***


Dia kelihatan sangat marah. Aku mengelus-elus dadanya yang bidang agar ia tenang. “Sssttt.... Sudah biarkan saja. Nanti mereka tahu kita di sini.” bisikku pada Ramon, si anak big boss, dari dalam salah satu bilik toilet.

Tuesday, August 20, 2013

AKU MEMILIH KECEWA

Jika seseorang yang kita kenal dihadapkan pada dua pilihan, antara melakukan sesuatu dengan kita atau melakukan hal lain dengan orang lain. Tentu kita berharap dia akan memilih kita. Jika ternyata dia memilih orang lain, kita pasti merasa kecewa. Dan jika dia memilih kita, kita tahu dia akan mengecewakan orang lain. Kecewa itu manusiawi.

Tapi coba kita lihat dari sudut pandang yang lain. Dia memilih untuk mengecewakan kita, bukan orang lain, barangkali karena dia merasa lebih dekat dengan kita daripada dengan orang lain. Dia merasa kita lebih bisa mengerti dan memaklumi dibanding orang lain. Jadi, dengan berlaku begitu, dengan mengecewakan kita, dia telah menyatakan bahwa level hubungan kita dengannya lebih tinggi daripada level hubungannya dengan orang lain. Apa kita masih perlu kecewa karenanya?

Ini mungkin terdengar bodoh. Atau mungkin ini memang pikiran yang bodoh. Mungkin ini hanya satu cara untuk menghibur diri dari rasa kecewa karena sebuah penolakan.

Bisa juga ini bukan apa-apa. Bisa saja ini tidak ada hubungannya dengan level hubungan or whatsoever. Mungkin masalahnya hanya sesederhana apa yang akan kita lakukan dengannya tidak lebih menarik dibandingkan apa yang akan dia lakukan dengan orang lain. Tentu saja kita tahu dia akan memilih yang mana. Masih mau kecewa?

Tanda tanya (?)

Obrolan Makan Malam

“Ayo dihabiskan nasinya. Kalau tidak nanti ayamnya mati,” kata Ibu.

“Tapi Bu, kita kan tidak punya ayam?” timpal Adik.

“Nanti ayam tetangga kita yang mati,” jawabku sekenanya.

“Bagus dong kalau ayam Pak Doger mati? Siapa tau kita kebagian barang sepotong dua potong? Lumayan kan buat teman nasi putih?” berondong Adik dengan mata berbinar-binar.

“Bangkai itu haram, Le! Kita tidak boleh makan bangkai binatang yang mati bukan karena disembelih. Sudah, sekarang diam dan habiskan nasimu,” kata Ibu.


“Ibu, Aku sering dengar istri Pak Doger mengomel dan memanggil suaminya binatang. Apakah kalau Pak Doger disembelih, dagingnya halal untuk kita makan?” tanya Adik.

Monday, August 19, 2013

Tentang Sebuah Cerita

Aku sama sekali tidak bisa membaca apa yang ada dalam hati dan pikirannya saat ini. Kunyalakan sebatang rokok untuk menyembunyikan kecemasanku.

Ia membaca draft cerita itu tanpa ekspresi. Aku bahkan tidak yakin ia sedang membacanya. Jangan-jangan ia hanya menatap kosong kertas-kertas di tangannya.

Beberapa saat kemudian ia letakkan draft cerita itu di atas meja dan mulai menyalakan rokoknya sendiri. Apakah ia sedang menyembunyikan kegelisahan?

Setelah hisapan ketiga, ia mulai buka suara. “Ini hanya perasaanku saja atau memang jalan ceritanya familiar?” tanyanya dengan senyum setipis gerimis. Aku tak menjawab.

“Ini tentang aku, kan?” tanyanya lagi.

“Jadi, selama ini kamu benar-benar mencintaiku?”