Showing posts with label #Cerita100Kata. Show all posts
Showing posts with label #Cerita100Kata. Show all posts

Wednesday, November 13, 2013

LAPORAN

Aku duduk menunggu giliran. Petugas di depanku sedang memproses seorang ibu muda—sepertinya dari desa—yang melaporkan penjambretan. Bayinya terus menangis meskipun ia sudah menjejalkan puting susunya.

“Makanya lain kali hati-hati. Jakarta ini kota besar, banyak kejahatan. Kalo pergi-pergi tidak usah bawa banyak barang, apalagi sambil bawa anak begini. Repot kan?” kata petugas itu setengah memarahi. Matanya sesekali melirik ke arah payudara si ibu yang terbuka sebelah.

***

Akhirnya tiba giliranku.

“Apa yang ingin Anda laporkan?”

“Ayah saya hilang.” Aku menarik nafas panjang. “Tidak perlu menyalahkan dan menasehati saya. Saya sudah terlalu sering mendapatkannya dari Ayah.”

“Tolong. Cari saja dia.”


Note:
Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Tema: AYAH

Tuesday, November 12, 2013

Kopi Liong Bulan

Biasanya jam segini aku sudah di rumah. Tapi pria yang berbagi meja denganku di kedai kopi kecil ini membuatku betah menunda pulang.

Awalnya ia bertanya tentang kopi yang sedang kunikmati—kopi tubruk cap Liong Bulan tanpa gula. Menurutnya selera kopiku menarik. Dan obrolan pun mengalir dari sana.

Kutandaskan sisa kopi dalam cangkirku hingga ke ampas-ampasnya. Pria itu tertegun sejenak melihat wajahku sebelum akhirnya tersenyum jenaka. Ah, sial! Ia pasti menertawakan kumis ampas kopi di atas bibirku. Dengan malu aku berusaha meraih tisu, tapi tangannya menahanku.

“Biar aku saja.” Pria itu mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya ke bibirku yang sedikit terbuka.


Note:
Tidak diikutsetakan dalam #FF100Kata karena lewat deadline.
Tema: AMPAS KOPI

Panggung Terakhir

Nengsi memandangi pantulan dirinya pada cermin rias sekali lagi. “Ini akan jadi panggung terakhirku di kampung. Besok aku akan pindah ke kota dan menikah dengan Kang Ipul.” Senyumnya sumringah.

Nengsi mendengar namanya dipanggil oleh pembawa acara. Riuh penonton, tepuk tangan, dan suara suitan sahut-menyahut menyambutnya di depan panggung. Ia pun naik ke panggung dengan jumawa, menyapa penonton yang langsung birahi begitu melihatnya. Begitu kendang mulai ditabuh, Nengsi menghentakkan pinggulnya sesuai irama kendang. Penonton mulai mabuk kepayang.

Seorang perempuan paruh baya memperhatikan panggung itu dari jauh. “Ini akan jadi panggungmu yang terakhir, perempuan sundal!” Dan ia membidik tepat ke tengah panggung.


Note:
Tidak diikutsetakan dalam #FF100Kata karena lewat deadline.
Tema: PANGGUNG

GANJIL

Lima laki-laki dan enam perempuan berdiri mengitari tanah merah berlubang yang menganga beberapa senti di depan pucuk sepatu mereka. Tangan-tangan mereka saling bergandengan. Beberapa bahu berguncang karena isak, beberapa yang lain berusaha tetap tegak.

Di dalam lubang itu terbaring sahabat mereka yang kemarin malam secara mengejutkan menemui ajal—ataukah ajal yang menemuinya?

Orang-orang bilang sahabat itu mati bunuh diri karena over dosis valium. Tapi mereka tahu bahwa si sahabat terpaksa meminum semua sedatif itu demi menahan hasrat untuk menghabisi nyawa mereka. Ia menemui ajal untuk membatalkan pertemuan ajal dengan sahabat-sahabatnya.


Sebelas orang itu tahu, dan karenanya merasakan sedih yang ganjil.


Note:
Tidak diikutsertakan dalam #FF100Kata karena sudah lewat deadline.
Tema: SEBELAS

Mari Kita Cari Makan

Seorang pengembara tiba di sebuah kampung di pinggiran kota. Ketika melintasi gunungan sampah, ia menemukan bayi merah di dalam kardus bekas mie instan di sana. Bayi itu masih hidup, ia tahu karena meskipun bayi itu tidak menangis, perutnya kembang kempis. Masih ada pula tali pusar pada perutnya itu.

Si pengembara merasa kasihan dan mengambil bayi malang itu lalu menggendongnya dengan satu-satunya kain sarung yang ia punya. “Kamu pasti lapar. Mari kita cari makan.”

Si pengembara mengetuk setiap pintu di kampung itu, tapi mereka menganggapnya orang gila. Ia lalu membawa bayi itu ke jembatan penyeberangan, mengharap iba dari orang yang lalu-lalang.


Note:
Diikutsertakan dalam #FF100Kata
Tema: BAYI

Friday, November 8, 2013

PENGAKUAN

“Aku sudah pernah hamil dan menggugurkan kandungan.”

“Waktu itu usiaku 25 tahun. Aku sudah melakukannya berkali-kali dengan lelaki ini—hanya dengan lelaki ini saja. Layaknya dua orang dewasa yang melakukan hubungan badan tanpa pernikahan, kami selalu melakukannya dengan hati-hati. Dia tidak pernah membiarkan benihnya membuahi sel telurku. Tapi barangkali Tuhan berkehendak lain. Aku pun hamil.”

“Dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Dia membayar semua biaya pengguguran itu. Bahkan dia bersedia menjemputku dari klinik dan mengantarkanku pulang ke rumah. Setelahnya, dia kembali ke istrinya.”

===

“Sayang, kamu masih perawan kan?” tanya lelaki yang baru menikahiku tadi pagi.


“Masih,” jawabku dingin.


Note:
Tema: Perawan


Tuesday, September 10, 2013

Malaikat Maut

Aku ingin mati, tapi tak punya nyali untuk bunuh diri.

Pernah aku membeli sekaleng obat nyamuk cair. Tapi hidungku sakit dan mataku berair saat aku mencoba mencicipinya. Jadi kaleng itu berakhir di kamar Mbok Sum yang banyak nyamuknya.

Aku pernah juga berpikir untuk loncat dari menara sutet. Tapi baru dua langkah, kakiku sudah gemetaran. Aku takut ketinggian.

Aku juga takut darah. Jadi mengiris pergelangan bukanlah pilihan.

Semalam malaikat maut datang membawa tali. Dan aku gagal menaruhnya di batang leherku.

“Aku ingin mati, tapi tak punya nyali untuk bunuh diri. Mengapa tidak kau bunuh saja aku?”


“Tugasku mencabut nyawa, bukan membunuh.”


Monday, September 2, 2013

Di Mana Semuanya Berakhir

“Di sana.” Kau menunjuk satu bintang di langit. Aku tak yakin bintang mana yang kau maksud, karena mereka begitu jauh dan alangkah banyaknya. Tapi saat aku bertanya dalam hati bintang mana yang kau maksud, tiba-tiba satu bintang berkelip, seperti memberi jawaban.

Itukah dia?

“Cantik sekali,” kataku yang terdengar seperti omong kosong, karena sebenarnya mereka semua terlihat sama dari bawah sini.

“Dulu, ia adalah wanita tercantik di muka bumi. Sekarang, ia menjadi bintang tercantik di langit. Bukankah aku sangat beruntung?” tanyamu.


Dan aku seketika tahu, di sinilah aku harus berhenti mencintaimu, karena kamu tak pernah berhenti mencintainya, meskipun ia telah tiada.


Friday, August 30, 2013

Wati

Wati menghambur keluar dari dalam rumahnya sambil berteriak-teriak. Tubuhnya yang agak tambun dibawanya berlari menuruni lembah. Kedua tangannya mengangkat rok lebarnya tinggi-tinggi hingga kemaluannya nyaris kelihatan. Wati memang jarang pakai celana dalam.

Wati terus berlari menuruni lembah menuju sungai. Cairan kental berwarna merah kehitaman mulai meluncur turun dari selangkangannya, merayapi paha dalamnya hingga ke betis. Wati semakin panik. Kini ia berlari sambil merenggangkan kedua kakinya. Air matanya mulai jatuh.


Begitu tiba di bibir sungai yang dangkal, Wati segera saja meloncat turun. Di sana Wati berjongkok sambil memeluk lututnya, menyelesaikan tangis ketakutannya, dan terus berdiam di aliran sungai hingga menstruasinya selesai.

Thursday, August 29, 2013

Kopi yang Hampir Dingin

“Kopimu sudah hampir dingin, Mas.” Terdengar suara istrinya yang lembut di belakang telinganya. Tapi ia sama sekali tidak bergerak untuk mengambil gelas belimbing berisi kopi yang ada di meja di sebelahnya. Ia hanya mengedip dua kali.

Lelaki itu ingin sekali menolehkan kepalanya dan melihat wajah istrinya. Bahkan ia ingin sedikit mengecupnya dan mengucapkan terima kasih untuk setiap gelas kopi yang istrinya sajikan setiap pagi dan sore hari. Tapi ia takut. Ia takut tak dapat menemukan wajah istrinya di sana. Ia takut itu hanya khayalannya belaka.

“Kopimu sudah hampir dingin, Mas.” Suara istrinya terdengar lagi. Kali ini diiringi semilir wangi melati.

Tuesday, August 27, 2013

CEMBURU

Ini sudah kali kelima perempuan itu mengibaskan rambutnya dan membasahi bibirnya yang sama sekali tidak kering, padahal belum genap sepuluh menit kami hadir di hadapannya. Wangi shampo dan parfum murahannya mencemari udara setiap kali ia bergerak. Dan yang kumaksud bergerak adalah memutar bahunya, menghentakkan kakinya, mencondongkan dadanya, dan menggerakkan pinggulnya. Ya Tuhan, hanya kau yang tahu mengapa lelakiku menyukai perempuan ini.

Tangan lelakiku mulai menyentuhnya. Tidak! Pegang saja aku, jangan pegang dia!

Lelakiku lalu mencium bibirnya. Jangan dia! Cium aku saja!

Lalu ia menyerahkanku kepada perempuan itu.


Si perempuan memekik bahagia melihatku, tangannya terulur menjemputku, kusambut dia dengan duri tajamku.

Monday, August 26, 2013

Toilet Wanita

“Eh, kalian tahu enggak sih kalau si Marni bakal dipromosikan jadi executive secretary?” kata seseorang.

“Masa sih? Dia kan baru dua bulan di sini! Kok bisa?” tanya seorang yang lain.

“Ya bisa aja lah. Emang kamu enggak tahu kalau si Marni ada affair sama big boss?” jawab yang lain lagi.

“Masa sih? Kurang ajar! Dasar perempuan jalang!”

Dan nada-nada nyinyir terus meluap dari mulut mereka.

***


Dia kelihatan sangat marah. Aku mengelus-elus dadanya yang bidang agar ia tenang. “Sssttt.... Sudah biarkan saja. Nanti mereka tahu kita di sini.” bisikku pada Ramon, si anak big boss, dari dalam salah satu bilik toilet.

Tuesday, August 20, 2013

Obrolan Makan Malam

“Ayo dihabiskan nasinya. Kalau tidak nanti ayamnya mati,” kata Ibu.

“Tapi Bu, kita kan tidak punya ayam?” timpal Adik.

“Nanti ayam tetangga kita yang mati,” jawabku sekenanya.

“Bagus dong kalau ayam Pak Doger mati? Siapa tau kita kebagian barang sepotong dua potong? Lumayan kan buat teman nasi putih?” berondong Adik dengan mata berbinar-binar.

“Bangkai itu haram, Le! Kita tidak boleh makan bangkai binatang yang mati bukan karena disembelih. Sudah, sekarang diam dan habiskan nasimu,” kata Ibu.


“Ibu, Aku sering dengar istri Pak Doger mengomel dan memanggil suaminya binatang. Apakah kalau Pak Doger disembelih, dagingnya halal untuk kita makan?” tanya Adik.

Monday, August 19, 2013

Tentang Sebuah Cerita

Aku sama sekali tidak bisa membaca apa yang ada dalam hati dan pikirannya saat ini. Kunyalakan sebatang rokok untuk menyembunyikan kecemasanku.

Ia membaca draft cerita itu tanpa ekspresi. Aku bahkan tidak yakin ia sedang membacanya. Jangan-jangan ia hanya menatap kosong kertas-kertas di tangannya.

Beberapa saat kemudian ia letakkan draft cerita itu di atas meja dan mulai menyalakan rokoknya sendiri. Apakah ia sedang menyembunyikan kegelisahan?

Setelah hisapan ketiga, ia mulai buka suara. “Ini hanya perasaanku saja atau memang jalan ceritanya familiar?” tanyanya dengan senyum setipis gerimis. Aku tak menjawab.

“Ini tentang aku, kan?” tanyanya lagi.

“Jadi, selama ini kamu benar-benar mencintaiku?”


Monday, August 12, 2013

BUKAN DONGENG KANCIL

Kancil bisa mendengar Pak Tani mengasah pisaunya di halaman belakang. Suara bilah pisau yang beradu dengan batu asah itu terdengar seperti gesekan busur biola pada dawai yang menyayat hati.

Kancil menendang dan meregang berusaha melepaskan ikatan di keempat kakinya. Tapi Gagal. Pak Tani membelenggunya dengan rantai besi bukan tali. Pak Tani tidak punya anjing peliharaan yang bisa ia kadali. Dan ia diikat di atas ranjang bukannya ditawan dalam kandang ayam.

Kancil semakin ketakutan kala suara pisau yang diasah berhenti digantikan oleh suara langkah Pak Tani. Ia dapat melihat kilasan dongeng hidupnya lewat di depan mata. Kancil membatin, “Beginikah rasanya kalah?”

SALAH ASUHAN

“Jadi? Sudah berapa lama kamu mengkonsumsi pil itu?”


“Ya sudah sekitar satu tahun lah.”


“Sejak kamu mulai pacaran?”


“Iya.” jawabnya malu-malu.


“Rutin?”


“Rutin dong! Tak pernah alpa sekalipun.” jawabnya pasti.


“Tapi kenapa?” tanya sahabatnya gemas.


“Karena Ibuku yang menyuruhku,” jawabnya polos. “Sejak Ibu tahu aku mulai dekat dan pacaran dengan laki-laki, Ibu menyuruhku minum pil KB secara rutin.”


“Tapi kamu kan belum pernah berhubungan seks sama pacar kamu ataupun orang lain!” Sahabatnya semakin gemas saja. “Atau jangan-jangan sudah?” Ia mulai ragu dan memicingkan mata penuh selidik.


“Apa?” Ratna tersentak mendengar pertanyaan sahabatnya. “Kamu sudah gila apa? Aku masih perawan tau!” 



Tuesday, August 6, 2013

JENDELA-JENDELA

Ada sebuah rumah boneka yang cantik. Rumah dua lantai itu cukup besar untuk ukuran boneka. Satu keluarga boneka tinggal di sana. Ada papa, mama, kakak laki-laki, dan adik perempuan. Mereka semua tampan dan cantik, dan yang terpenting mereka tampak bahagia.

Aku suka mengintip ke dalam rumah mereka melalui jendela-jendelanya. Dari sana aku tahu bahwa kebahagiaan mereka palsu belaka. Mereka tidak benar saling menyayangi sebab orang yang saling menyayangi tidak mungkin saling membohongi. “Betapa menyedihkannya keluarga mereka,” pikirku.

Belum lagi surut kesedihanku, tiba-tiba ada sesuatu yang menghalangi cahaya masuk dari jendela kamarku. Sebuah mata yang sangat besar tampak mengintip di sana.