Friday, November 8, 2013

PENGAKUAN

“Aku sudah pernah hamil dan menggugurkan kandungan.”

“Waktu itu usiaku 25 tahun. Aku sudah melakukannya berkali-kali dengan lelaki ini—hanya dengan lelaki ini saja. Layaknya dua orang dewasa yang melakukan hubungan badan tanpa pernikahan, kami selalu melakukannya dengan hati-hati. Dia tidak pernah membiarkan benihnya membuahi sel telurku. Tapi barangkali Tuhan berkehendak lain. Aku pun hamil.”

“Dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Dia membayar semua biaya pengguguran itu. Bahkan dia bersedia menjemputku dari klinik dan mengantarkanku pulang ke rumah. Setelahnya, dia kembali ke istrinya.”

===

“Sayang, kamu masih perawan kan?” tanya lelaki yang baru menikahiku tadi pagi.


“Masih,” jawabku dingin.


Note:
Tema: Perawan


Wednesday, October 16, 2013

Alien Happiness

Hari ini aku berangkat ke kantor dengan mood super ceria sembari menenteng buku #SeriZodiak Kisah Orang-orang Sagitarius yang baru saja kubeli tadi malam. 

Tapi keceriaan itu tak bertahan lama karena aku tak bisa membaginya dengan orang-orang di kantor ini. Kekecewaan itu meleleh saat ada yang bertanya "Ayu Utami ini siapa?"
Aku pun terduduk lemah.

Seperti memiliki kekasih diam-diam. Bahagia ini harus kupendam.


Jakarta, 16 Oktober 2013


Tuesday, September 10, 2013

Malaikat Maut

Aku ingin mati, tapi tak punya nyali untuk bunuh diri.

Pernah aku membeli sekaleng obat nyamuk cair. Tapi hidungku sakit dan mataku berair saat aku mencoba mencicipinya. Jadi kaleng itu berakhir di kamar Mbok Sum yang banyak nyamuknya.

Aku pernah juga berpikir untuk loncat dari menara sutet. Tapi baru dua langkah, kakiku sudah gemetaran. Aku takut ketinggian.

Aku juga takut darah. Jadi mengiris pergelangan bukanlah pilihan.

Semalam malaikat maut datang membawa tali. Dan aku gagal menaruhnya di batang leherku.

“Aku ingin mati, tapi tak punya nyali untuk bunuh diri. Mengapa tidak kau bunuh saja aku?”


“Tugasku mencabut nyawa, bukan membunuh.”


Monday, September 2, 2013

Di Mana Semuanya Berakhir

“Di sana.” Kau menunjuk satu bintang di langit. Aku tak yakin bintang mana yang kau maksud, karena mereka begitu jauh dan alangkah banyaknya. Tapi saat aku bertanya dalam hati bintang mana yang kau maksud, tiba-tiba satu bintang berkelip, seperti memberi jawaban.

Itukah dia?

“Cantik sekali,” kataku yang terdengar seperti omong kosong, karena sebenarnya mereka semua terlihat sama dari bawah sini.

“Dulu, ia adalah wanita tercantik di muka bumi. Sekarang, ia menjadi bintang tercantik di langit. Bukankah aku sangat beruntung?” tanyamu.


Dan aku seketika tahu, di sinilah aku harus berhenti mencintaimu, karena kamu tak pernah berhenti mencintainya, meskipun ia telah tiada.


Friday, August 30, 2013

Wati

Wati menghambur keluar dari dalam rumahnya sambil berteriak-teriak. Tubuhnya yang agak tambun dibawanya berlari menuruni lembah. Kedua tangannya mengangkat rok lebarnya tinggi-tinggi hingga kemaluannya nyaris kelihatan. Wati memang jarang pakai celana dalam.

Wati terus berlari menuruni lembah menuju sungai. Cairan kental berwarna merah kehitaman mulai meluncur turun dari selangkangannya, merayapi paha dalamnya hingga ke betis. Wati semakin panik. Kini ia berlari sambil merenggangkan kedua kakinya. Air matanya mulai jatuh.


Begitu tiba di bibir sungai yang dangkal, Wati segera saja meloncat turun. Di sana Wati berjongkok sambil memeluk lututnya, menyelesaikan tangis ketakutannya, dan terus berdiam di aliran sungai hingga menstruasinya selesai.

Thursday, August 29, 2013

Kopi yang Hampir Dingin

“Kopimu sudah hampir dingin, Mas.” Terdengar suara istrinya yang lembut di belakang telinganya. Tapi ia sama sekali tidak bergerak untuk mengambil gelas belimbing berisi kopi yang ada di meja di sebelahnya. Ia hanya mengedip dua kali.

Lelaki itu ingin sekali menolehkan kepalanya dan melihat wajah istrinya. Bahkan ia ingin sedikit mengecupnya dan mengucapkan terima kasih untuk setiap gelas kopi yang istrinya sajikan setiap pagi dan sore hari. Tapi ia takut. Ia takut tak dapat menemukan wajah istrinya di sana. Ia takut itu hanya khayalannya belaka.

“Kopimu sudah hampir dingin, Mas.” Suara istrinya terdengar lagi. Kali ini diiringi semilir wangi melati.

Tuesday, August 27, 2013

CEMBURU

Ini sudah kali kelima perempuan itu mengibaskan rambutnya dan membasahi bibirnya yang sama sekali tidak kering, padahal belum genap sepuluh menit kami hadir di hadapannya. Wangi shampo dan parfum murahannya mencemari udara setiap kali ia bergerak. Dan yang kumaksud bergerak adalah memutar bahunya, menghentakkan kakinya, mencondongkan dadanya, dan menggerakkan pinggulnya. Ya Tuhan, hanya kau yang tahu mengapa lelakiku menyukai perempuan ini.

Tangan lelakiku mulai menyentuhnya. Tidak! Pegang saja aku, jangan pegang dia!

Lelakiku lalu mencium bibirnya. Jangan dia! Cium aku saja!

Lalu ia menyerahkanku kepada perempuan itu.


Si perempuan memekik bahagia melihatku, tangannya terulur menjemputku, kusambut dia dengan duri tajamku.