A Glimpse Into 'Street Ballad: A Jakarta Story'
Friday, February 22, 2013
Street Ballad: A Jakarta Story
Tuips,
pernah nonton film dokumenter??
Eh,
sebentar, saya ubah pertanyaannya. Pernah nonton film dokumenter di bioskop?
Iya, di XXI atau Blitz Megaplex..??
Kalau
belum, mungkin bulan Juli nanti kita bisa mengalami nonton film dokumenter di
bioskop. Bukan sekedar film dokumenter, tapi film dokumenter yang bagus!
Film
dokumenternya sendiri adalah film lokal (Indonesia) meskipun disutradarai dan
diproduseri oleh orang bule, Daniel Ziv. But,
I myself don’t consider him as bule anymore since he already lived and worked in
Indonesia for so many years and he speaks Bahasa very fluent.
Judul
filmnya Jalanan (“Streetside”). Film
ini adalah film dokumenter musik yang menceritakan kehidupan pengamen jalanan
(pengamen bis lebih tepatnya) di Jakarta, Ibukota Indonesia. Ada tiga orang pengamen
yang kehidupan sehari-harinya disorot oleh kamera Daniel, mereka adalah Boni,
Ho, dan Titi. Dan mereka bukanlah pengamen sembarangan. Mereka pengamen yang stand-out, punya kepribadian, dan
berkharisma.
Pada
tanggal 5 Februari yang lalu saya diajak oleh seorang teman untuk datang ke SAE
Institute di fX Jakarta menyaksikan pemutaran film Street Ballad (Balada
Anak Jalanan) perdana di Indonesia (perdana yang dilihat banyak orang). Film
berdurasi 52 menit ini adalah versi yang lebih pendek dan lebih bersih dari
film Jalanan itu sendiri. Dibuat untuk keperluan film dokumenter TV di ITVS
International dan PBS Television. Dan menurut Daniel, film ini mendapat
sambutan yang cukup baik di Amerika sana. *applause*
Film
Street
Ballad fokus pada satu pengamen wanita yang bernama lengkap Titi
Juwariyah. Selama empat tahun Titi diikuti oleh Daniel dan Meita—sang sound woman, ke manapun dia pergi.
Bayangkan, empat tahun! Film ini merekam nyaris semua bagian dalam hidup Titi. Tidak
hanya pekerjaannya yang melompat dari satu bis ke bis lain, tapi juga kehidupan
pribadinya, dari sejak ia masih menikah sampai bercerai, dari Ayahnya masih ada
sampai meninggal.
Ernest
Hariyanto selaku editor mengaku cukup kesulitan dalam memilih kisah mana yang
akan ditampilkan dalam film. Karena selama empat tahun shooting tentunya banyak hal yang dialami Titi dan kawan-kawan.
Beberapa di antaranya sangat menyentuh atau bisa jadi sangat menginspirasi.
Tapi alasan itu saja tidak cukup, Ernest harus membuat ceritanya mengalir,
kisah yang dipilih harus berhubungan satu sama lain. Dan itu bukan pekerjaan
mudah, butuh waktu dua tahun untuk mengedit semua video hasil rekaman Daniel selama
empat tahun yang berdurasi total 200 jam!
Wow,
itu berarti total waktu produksi film dokumenter ini adalah enam tahun,
saudara-saudara...!!!
Berhubung
ini adalah film dokumenter musik maka musik jadi bagian yang sangat penting
dalam film ini. Meita Eriska yang dulunya juga seorang pengamen mendapatkan
bimbingan dari Daniel sendiri untuk menjadi seorang sound woman dalam produksi film ini. Dan hasilnya luar biasa! She’s natural..
Sesi
tanya-jawab setelah pemutaran film Street Ballad menjadi sangat menarik
karena Titi hadir di sana, begitu pun Ho dan Boni. Dan tentu saja Titi yang
menjadi bintang podium malam itu. Dia lah yang laris dihujani pertanyaan dari
para penonton yang antusias ingin tahu bagaimana Titi berkenalan dengan Daniel?
Apa Titi tidak merasa risih dibuntuti oleh Daniel hampir setiap hari selama
empat tahun? Apa harapan Titi terhadap film ini? And so on and so on...
Malam
itu saya pulang membawa sebuah kesan di hati saya. Sejak saat itu saya tidak
bisa lagi melihat pengamen dengan cara yang sama.
Tuesday, December 25, 2012
I Wish...
I wish I was there or I wish you were
here...
There must be a
reason that you are not in the same place with the person you wished. Because no
matter how cool or how fun their activity in your imagination as you stare at
their pictures or heard from their voices or read from their messages, it won’t
be the same as if you are around them. The story would be totally different, it
maybe better but it may also be worst.
You are amazed
by the story of wonderful things they saw or did, but maybe if you are there by
their side, those things won’t be as wonderful as you imagined. Your attention
to the beauty of a place or to the fun of activity might be distracted by your
excitement of being together with the person you adored.
You can bare the
awful story of their journey, you can be their angel by being a good listener
and maybe give some nice words to sooth them. But if you were there, experience
those awful things by yourself with them, I doubt you could be as calm as an
angel and speak up nice words to make things look better.
The difference of your existence (be with them
physically or miles away but always there to listen) will definitely make a
different on the way you thought about them and the way you thought about your
relationship/togetherness – despite of whatever togetherness you are doing.
Admiring someone
is better done from a distance..
[a short note from a short thought]
Calabai, 27 November 2012
Gio
Aku menamainya Gio, padahal aku tidak tahu
apakah ia perempuan atau laki-laki. Kalau ia perempuan bisa saja nama
panjangnya Giovany, tapi tetap akan kupanggil Gio.
Gio adalah tukik mungil yang
lembut dan lucu hasil percobaan konservasi penyu oleh teman-teman dari KOMPPAK
(Komunitas Pecinta Penyu dan Karang). Begitu mungil dan lembutnya Gio sampai
aku tidak bisa membayangkan suatu hari nanti ia bisa jadi sebesar penyu-penyu
yang pernah kulihat selama ini.
Sebelumnya Gio datang sebagai telur penyu
bersama 89 butir telur lainnya yang dibeli oleh teman-teman KOMPPAK dari desa
Kawinda To’i seharga Rp. 2.500 per butir. Biasanya mereka menjual telur penyu
untuk dikonsumsi dengan harga Rp. 3.000 per butir, berhubung kali ini untuk
tujuan konservasi maka mereka setuju memberikan potongan harga Rp. 500 per
butir.
Cikal bakal Gio dan 89 telur lainnya
dibawa ke desa Calabai. Di sini teman-teman KOMPPAK sudah mempersiapkan tempat
untuk telur Gio dan teman-temannya di pantai. Mereka membuat lubang di pasir
dengan kedalaman mulai dari 15 cm hingga 40 cm. Nah, telur Gio kebagian tempat
di lubang sedalam 25 cm. Pada hari ke-42 telur-telur penyu itu mulai menetas,
tapi sayang tidak semua menetas. Dari 90 butir telur yang dipendam, hanya 15
telur saja yang menetas sempurna. Mereka adalah telur-telur yang dipendam di
kedalaman 20 cm, 25 cm, dan 30 cm. Sayangnya lagi, 15 bayi tukik yang menetas
itu satu per satu mati pada hari-hari berikutnya dan hanya menyisakan tiga ekor
termasuk Gio ini.
Karena banyak
tukik yang mati kawan-kawan KOMPPAK mulai lebih waspada untuk merawat Gio dan dua temannya yang
tersisa. Mereka ditaruh di ember yang setiap hari harus diganti airnya. Mereka
belum butuh makanan karena masih membawa makanan sendiri di bawah tubuhnya.
Selang satu bulan teman-teman KOMPPAK membuatkan penangkaran sederhana di dekat
dermaga. Penangkaran ini juga nantinya akan digunakan untuk menampung
teman-teman Gio yang akan didatangkan dari Mataram sedikitnya 50 ekor tukik. Penangkaran
ini sangat sederhana, berukuran kurang lebih 5 m X 2,5 m dibuat dengan 6 tonggak
kayu dan dikelilingi jaring dua lapis. Tingginya pun tidak sampai 2 meter.
Maka pada suatu
sore yang cerah ketika penangkaran tersebut selesai dibuat, kami pindahkan Gio
dan dua temannya ini dari ember ke dalam penangkaran. Aku bisikkan padanya
untuk senantiasa berhati-hati dan semoga dia aman di dalam sana. Gio terlihat
sangat gembira saat dilepas ke dalam penangkaran. Ia berenang lincah ke sana ke
mari, dan kami pun meninggalkan mereka di sana saat senja mulai turun.
Malam harinya
sekitar pukul 22:00 kami mendapat kabar bahwa air laut meninggi dan salah satu
tukik terlepas dari penangkaran. Panik, kami semua segera berlari menuju
dermaga. Sesampainya di sana kawan-kawan KOMPPAK segera terjun membetulkan jaring yang
agak turun di salah satu sisi dan benar menemukan bahwa di dalam hanya tinggal
tersisa dua ekor tukik. Aku pun meratap, kamu ke mana Gio??? Kami mencarinya di sekeliling dermaga
tapi berhubung ukurannya masih sangat kecil dan malam gelap, kami tidak
berhasil menemukannya.
Aku melepas pandang ke arah laut luas di depan dermaga, mencemaskan Gio. Suara 'cepiak' air laut yang menampar lembut tiang-tiang dermaga melemparku ke dalam kenangan tentang Gio. Ya ampun, dia masih begitu kecil, begitu rentan. Akankah ia sanggup bertahan di luar sana? Laut gelap di hadapanku hanya diam tak menjawab. Aku menunduk, di manapun
kamu berada sekarang semoga kamu baik-baik saja Gio... Semoga kamu selamat dan dapat tumbuh besar,
kawin, lalu menghasilkan telur yang banyak demi keberlangsungan spesiesmu dan
keseimbangan alam semesta.
Selamat jalan Gio... Your journey starts
here...
[Calabai, 29 November 2012]
Catatan: Teman-teman
di KOMPPAK juga mulai mensosialisasikan gerakan konservasi penyu ini kepada
penduduk. Daripada penduduk mengambil telur penyu dan dijual untuk dikonsumsi,
KOMPPAK bersedia membayar Rp. 5000 untuk setiap tukik yang mereka biarkan
menetas dari telurnya dan diserahkan ke KOMPPAK untuk ditangkar. Untuk
informasi lebih lengkap tentang siapa KOMPPAK dan apa saja yang mereka lakukan,
sila lihat di sini: KOMPPAK
Atau baca tulisan seorang Pencumbu Indonesia tentang KOMPPAK di sini: Cumbu Indonesia siapa tahu ada yang mau bantu... Salam lestari!
Monday, December 24, 2012
'Santai' di Lombok
“Cemplung!
Cemplung!” akhirnya dua kaki saya mendarat di pulau Lombok. Turun dari fast boat yang mengantar saya dari
Padang Bai Bali ke Teluk Nara Lombok. Sampai di Teluk Nara saya dan travel mate saya masih agak-agak jetlag (nyawa belum ngumpul semua lebih
tepatnya karena tidur sepanjang perjalanan kapal). Jadi saat ditanya oleh
orang-orang yang menawarkan jasa transportasi berupa travel, kami kebingungan.
Akhirnya saya sebutkan saja satu-satunya nama penginapan di Senggigi yang saya
tahu dari rekomendasi seorang teman, “Santai Beach Inn”. Harga travel 200 ribu
per mobil (mobilnya APV tapi kapasitas maksimal hanya 4 orang), mahal memang,
tapi tidak ada pilihan lain karena kami bingung juga mau ke mana dan tidak
tampak ada kendaraan umum di sekitar situ. Padahal kalau mau jalan sedikit ke
jalan raya kami sebenarnya bisa menunggu bemo (angkot) di pinggir jalan yang
memang lewatnya jarang-jarang. Beruntung ada sepasang bule yang mau sharing dengan kami. Jadi ongkos 200 rb
dibagi berempat, deal!
Wow....
Sepanjang perjalanan dari Teluk Nara sampai ke Mangsit (ternyata Santai Beach
Inn letaknya di Jl. Mangsit, belum sampai Senggigi) kami tak henti-henti
berdecak kagum demi melihat pemandangan yang sempurna di bawah siraman sinar
matahari maksimal. Laut biru di sebelah kanan jalan dan bukit gersang kecoklatan
di sebelah kiri menghasilkan panorama yang eksotik. Jalanannya sepi jali dan
mulus lus lus lus tanpa cela.. Hot mix hitam berkilauan memantulkan cahaya
matahari yang siang itu terik luar biasa. Lambat laun bukit gersang kecoklatan
berganti dengan bukit hijau menyegarkan, masih berhadapan dengan laut biru
mempesona, kami melewati Nipah Hills.
Setelah 20 menit
perjalanan yang rasanya seperti obat tetes mata – menyegarkan, kami akhirnya
sampai di Santai Beach Inn. Kesan pertama, hmm... Sejuk! Dari pintu masuk
tempat ini lebih mirip hutan atau kebun ketimbang penginapan. Pohon-pohon
tinggi, semak-semak rimbun, pokoknya adem! Konsep kamarnya adalah cottages,
jadi masing-masing kamar terpisah oleh rimbun tumbuh-tumbuhan. Ada dua kamar
standard yang tipenya rumah monyet, kamar tidur di atas, di bawah bale-bale
untuk bersantai dan ngobrol-ngobrol. Kamar mandi semi outdoor dengan WC jongkok
untuk kamar standard. Sayang kami lupa melihat-lihat isi kamar yang levelnya di
atas standard, tapi bentuknya cottage biasa, bukan rumah monyet seperti kamar
standard. Semua kamar di sini tanpa AC, hanya ada kipas angin kecil di sisi
tempat tidur yang tidak pernah kami nyalakan karena kami lebih butuh colokannya
untuk charge hp dan segala gadget. Angin bisa kami dapatkan
cuma-cuma di kamar hanya dengan membuka jendela. Satu hal yang agak mengganggu
adalah paduan suara tonggeret yang nyaring bunyinya, sangat nyaring sampai
memekakkan telinga! Tapi untungnya serangga-serangga itu hanya bernyanyi di
siang hari. Tapi malamnya pun suasana masih ramai dengan suara jangkrik dan
binatang entah apa yang syahdu membalut malam. Benar-benar penginapan bernuansa
natural.
Santai Beach Inn
terletak di Jalan Mangsit, yaitu jalan tempat villa-villa dan resort-resort
mewah berdiri. Di balik resort-resort mewah itu tentunya ada private beach yang jadi andalan mereka.
Nah, karena berada sejalan dengan mereka maka otomatis Santai Beach Inn juga
dapat jatah private beach meskipun tidak
langsung di belakang penginapan. Halaman belakang Santai Beach Inn tidak
berbatasan dengan pantai seperti resort-resort itu, melainkan dengan batu. Jadi
kalau ingin main air laut atau mantai kita harus berjalan sedikit ke kanan
menuruni pijakan batu. Dan kalau kita berjalan sepanjang pantai itu kita bisa
lihat fasilitas resort-resort mewah tetangga sebelah. Kolam renang dan
kursi-kursi tidur menghadap ke laut, kamar massage terbuka ke pemandangan laut,
restaurant dengan pemandangan laut, dan sebagainya dengan view langsung laut dan pantai. Huh! (ceritanya nyinyir).
Overall, Santai Beach Inn tidaklah buruk
sebagai pilihan penginapan di sekitar Senggigi. Dari Jalan Mangsit ke keramaian
Senggigi hanya sekitar lima menit saja dengan kendaraan. Rate yang ditawarkan
(2012) adalah Rp. 110 rb untuk single (1 orang) dan Rp. 160 ribu untuk double
(2 orang) per kamar standard, belum termasuk pajak tapi sudah termasuk sarapan.
Sarapan yang unik, tiga potong pisang goreng dan dua potong pepaya untuk setiap
orang ditambah teh/kopi. Oiya, di sini juga ada wifi tapi untuk dapat
passwordnya harus bayar kalau tidak salah Rp. 20 rb. Lebih menarik lagi
penginapan ini punya perpustakaan mini di bale-bale tempat makan/nongkrong.
Seperti yang bisa diduga rak bukunya didominasi oleh buku-buku lama dan
buku-buku itu bisa dibeli dengan harga Rp. 50 ribu untuk buku > 500 halaman
dan Rp. 40 ribu untuk buku < 500 halaman. Mereka juga mau membeli (buy/buy back) buku dengan harga setengah
dari harga jual tadi.
Pagi harinya
saya dan travel mate saya melakukan yoga di halaman belakang penginapan.
Langsung di atas pasir tanpa alas dengan pemandangan laut biru dan suara debur
ombak mengiringi. Kapan lagi?? ;)
[Senggigi, 15 November 2012]
Chris
Chris : “How much money will you take for both
of your eyes?”
Me : “Excuse me?”
Chris : “Let’s say somebody will give a lot of
money to take your eyes, how much do you think it worth? USD 40 million??”
Me : “Hmm, sorry.. Not for sale..”
Chris : “See? It’s not about the money. It’s
about the opportunity to experience things. You will never exchange the
opportunity to see the world with bunch of money, no matter how much.”
Itu adalah secuil cuplikan percakapan saya dengan seorang traveler asal
Austria, sebut saja Chris. Ini adalah bulan keduanya dari enam bulan rencana
perjalanannya keliling Asia.
Chris bertemu Gus – seorang traveler asal Spanyol, di Lombok, lalu mereka
bergabung untuk share room di Bali.
Gus adalah seorang couchsurfer
kenalan Anna – my travel mate, lalu
mereka (Anna dan Gus) janjian untuk bertemu di Bali. Begitulah saya pun
berkenalan dengan Gus dan Chris.
Gustav is a very nice guy and a
very good example of couchsurfer. Tapi bagi saya Chris lebih menarik (not in attractive way – if you know what I
mean). Chris adalah seseorang yang sangat filosofis. Saat kami sedang
membicarakan sebuah topik, dia bisa tiba-tiba merespon dengan kalimat-kalimat
ajaib yang filosofis. Surprising moment
yang kadang membuat saya tertawa geli, tapi kadang juga membuat saya
mengangguk-angguk mafhum.
Di malam terakhir kami di Bali, kami duduk-duduk di atas pasir pantai
Kuta yang malam itu masih juga ramai orang. Karena Anna sudah mengobrol seru
dengan Gus, maka saya dan Chris mau tak mau harus berbagi dalam diam. Lambat
laun obrolan berat tentang kehidupan, keyakinan, masa lalu, dan masa depan
mengalir seperti ombak yang saling mengantarkan.
Chris membagi cerita tentang salah satu pengalaman hidup yang mengubah
hidupnya sekarang. Mungkin itu adalah obrolan terdalam yang pernah saya lakukan
dengan orang yang baru saya kenal. “Wow, that was quite deep conversation that
you won’t have everyday with every person” kata Chris, dan saya hanya
tersenyum...
Tanpa terasa malam bergulir semakin jauh. Waktu yang mempertemukan kami, waktu
juga yang akhirnya memisahkan kami. Walaupun secara teknis kami baru bertemu
dan jalan bareng satu hari, tapi satu hari di Bali itu akan menjadi satu hari
yang tidak mudah terlupakan. Selain karena pengalaman jalan yang seru (sengaja
nyasar-nyasar mencari peristiwa), obrolan yang membuat kami merasa sudah kenal
bertahun-tahun membuat pelukan perpisahan malam itu sulit dilepaskan.
Chris : “In the end, everything is gonna be
fine”
Me : “If it’s not fine, then it’s not the
end” (Then we ‘high-five!’)
Satu lagi kalimat Chris yang masih saya ingat sampai sekarang:
“What is the most amazing thing
that happen today? It is that you are ALIVE.”
[This note is dedicated to Chris,
for our one night-friendship]
~ Senggigi, 9 November 2012 ~
Lost In "Civilization"
Meninggalkan ibu kota selama lima minggu ternyata mampu membuat saya
merasa asing begitu menginjakan kaki di kota ini lagi. Bukan sih karena
pembangunan atau perubahan infrastruktur yang sebegitu pesat sampai sulit
dikenali, semata-mata hanya karena saya lupa bagaimana rasanya hidup di kota
metropolitan sebesar Jakarta. Bisa jadi otak saya memang sudah tercuci oleh
segala hal yang terjadi lima minggu belakangan.
Sedikit flash back, lima minggu
yang lalu (tepatnya tanggal 7 November 2012) saya terbang meninggalkan Jakarta
di pagi buta – flight pertama pukul
06:00 ke Bali. Setelah itu saya menikmati hari demi hari yang kadang penuh
petualangan, kadang penuh ketenangan. Melipir dari pulau Bali ke Lombok,
menjajal fisik dan mental ke ketinggian gunung Rinjani, snorkeling santai di Gili Trawangan, menyaksikan pawai budaya
Festival Moyo 2012 di Sumbawa, bersantai di Pulau Moyo, menanam pohon dan
terumbu karang di Calabai, mencicipi susu kuda liar di Dompu, melewati Bima
terus ke Sape, menyeberang ke Labuan Bajo, menengok komodo di Pulau Komodo, melihat
sawah yang mirip sarang laba-laba di Ruteng, berkunjung ke Desa Bena dan Desa
Luba (desa tradisional) di Bajawa dan berendam di sumber air panas Soa, mencari
matahari terbit di Danau Kelimutu, kembali ke Ende untuk menunggu ferry ke
Kupang, dan terakhir bersantai di Kupang sampai waktunya kembali ke Jakarta.
Pffiiuuhhh... Such a short journey..
Hahahaha.. J
Tanggal 14 Desember 2012 saya tiba kembali dengan selamat – walau dalam
keadaan yang agak kusam, di Jakarta. Dijemput oleh adik tercinta di Bandara
Cengkareng – mungkin ia takut kakaknya nyasar atau lupa jalan pulang, proses perkenalan
kembali dengan adat istiadat dan budaya kota besar Jakarta pun dimulai.
Waktu itu hari Jumat, kami (saya, adik saya, dan Marni – mobil adik saya)
meninggalkan Bandara sekitar pukul 16:00 WIB. Macet? Gak usah ditanya. Sekarang
sepertinya ‘tidak macet’ adalah sesuatu yang di atas normal bagi Kota Jakarta.
Jadi di sanalah kami, di tengah kemacetan tol Bandara, beringsut sedikit demi
sedikit seperti siput di antara siput-siput lainnya. Tiba-tiba terdengar sirine
yang cukup mengganggu, itulah voorider
rombongan entah siapa yang memaksa meminta jalan. Adik saya yang sudah bete sedari tadi seketika emosinya melonjak
naik dan tidak punya niat sama sekali memberi jalan. “Gue juga pengguna jalan!
Gue bayar tol! Enak aja nyuruh-nyuruh gue minggir!” begitulah adik saya
meluapkan emosinya di sebelah saya. Tapi apa daya motor besar itu begitu
mengintimidasi dan akhirnya berhasil memberikan jalan leluasa bagi
iring-iringan mobil di belakangnya. Sekali lagi adik saya “nge-rap” di belakang
kemudi. Lalu setiap kali adik saya berusaha masuk ke dalam barisan dan tidak
diberi jalan, ia langsung mengumpat “Pelit! Biarin aja kalo pelit nanti
kuburannya sempit!”. Setelah lepas jauh dari jalan tol, ada seorang laki-laki
yang menyebrang jalan dan hampir terkena moncongnya Marni. Adik saya menekan
klakson dengan marah. Lalu mereka (adik saya dan si penyeberang jalan) saling
beradu besar bola mata. Tentu saja adik saya kalah (matanya sama sipitnya
seperti saya) tapi kilatan yang terpancar dari matanya seakan berkata “don’t
mess with this girl!”. Hahahaha...
Sebenarnya saya sedikit shock melihat adik saya sekeras itu – seperti Tyranosaurus
belum buka puasa. Tapi saya hanya bisa duduk diam di bangku penumpang dan
terbengong-bengong seperti orang ling-lung. Setiap kali adik saya mengumpat
marah, dalam hati saya hanya berkata “ya ampun, harus ya marah-marah sampe
segitunya??”
Saya merasa “tersesat” di ibu kota. Yah, mungkin saya memang telah lupa
seberapa besar tekanan hidup di Jakarta. Mungkin saya telah lupa bahwa tinggal
di Jakarta memang harus galak biar gak digalakin orang. Mungkin saya pun telah
lupa bahwa di Jakarta kita tidak boleh lemah apalagi ngalah, sebab kalau kita
ngalah maka kita akan mati terinjak atau diinjak. Jadi ingat jargon yang sempat
terkenal pada jaman dahulu dan sepertinya masih relevan hingga sekarang: ‘Ibu
Kota lebih kejam dari Ibu Tiri’.
Dalam hati saya jadi bertanya-tanya, apakah dulu sebelum saya meninggalkan
Jakarta, saya juga sekeras itu? Jika iya, betapa saya bersyukur sempat
meninggalkan semua itu, walau hanya sementara. Dan mari kita lihat berapa lama
yang Jakarta butuhkan untuk membuat saya kembali menjadi insan Jakarta yang
keras!
[Cileungsi, 16 Desember 2012]
Subscribe to:
Posts (Atom)





