Tuesday, August 13, 2013

Lembar Terima Kasih (Edisi Trip ke Indonesia Timur)

Tak terasa sudah enam bulan lebih berlalu sejak perjalanan saya melanglang buana ke arah timur Indonesia. Perjalanan yang luar biasa yang tidak mungkin terjadi tanpa dukungan semesta.

Ini adalah lembar ucapan terima kasih saya kepada orang-orang yang telah membuat perjalanan ini menjadi mungkin bagi saya. Dan teruntuk orang-orang yang saya temui selama dalam perjalanan yang telah banyak membantu atau sekedar mejadi teman jalan yang menyenangkan.

Terima kasih kepada:
  • Pemilik segala nyawa dan penguasa alam semesta.
  • Annastasia Puspaningtyas yang punya ide untuk travelling ke timur Indonesia dalam waktu satu bulan.
  • Fadillah Yuliasari, my lovely sister yang telah memberi dukungan tanpa keraguan sedikitpun atas keputusan gila yang saya buat dan tentu saja sokongan yang diberikan selama saya dalam perjalanan. I couldn’t do this without you.
  • Bartian Rachmat, my lovely brother yang juga mendukung habis-habisan keputusan saya dan tetap memberi semangat lewat telepon-telepon panjang di malam-malam yang juga panjang selama dalam perjalanan.
  • Anto Koboi Insap, my new idol yang telah memberi begitu banyak petunjuk dan membimbing saya tanpa bosan selama dalam perjalanan.

Lalu ada teman-teman selama perjalanan:
  • Chris (Austria) and Gustav (Spain). Thanks for all the crazy trip with motor cycle around Bali and long deep conversation in the middle of the night in Kuta beach.
  • Reza, Dody, Irwan, Ikhsan, Ijal, and Abdu. Thanks for accepting me in your group and for the near death experiences all the way up and down in Rinjani.
  • Yudha and her sister Ranny from Surabaya. Thanks for all your help and treat while we were in Gili Trawangan down to Mataram.
  • Pujia and her lovely family. Thanks for welcoming me in your lovely home in Sumbawa and for taking me to Sarkofagus and a cave (Liang). Well, the sarkofagus was disappointing but the journey was one experience. I’m really sorry I got sick when I was in your house, but your mom and your aunt took a really good care of me, I can’t say enough thanks for that.
  • Ibu Nani, Bapak Dahlan and the whole family in Moyo island. Thanks for accepting me in your home and treat me very well. Also to Lisa, thanks for taking me to a beautiful beach (Taman Wisata) in Moyo island. And for her mom, Ibu Halimah, thanks for letting me sit around in your shop almost all the time while I’m in Moyo. The hospitality in Moyo island was beyond my expectation.
  • Teguh in Calabai. Thanks for giving up your room for me, I really appreciate that. To Bang Chris and Bang Edi, thanks for all the knowledge, storries, and the most exciting experience during my stay in Calabai. Also to Fitri, Ditha, Dina, Om Cindalu, and all nice people in KOMPPAK and Gamping who have make my stay in Calabai unforgetable. Especially to KOMPPAK, please keep up your spirit to do all the great things. I know it won’t be easy but once there is a will, there will always be a way. I hope I can come back to Calabai in 2015 for the commemorate of 200 years of Tambora eruption, and this time I have to climb up there.
  • Adi and Boy, friends of Teguh, thanks for the “susu kuda liar” vaganza in Dompu and especially to Adi for the short chit chat we’ve had. I wish the best for you...
  • Seraina (Switz) and Daniel (Spain), thanks for the nice friendship we’ve had and all good talking all the way to Labuan Bajo from Sape.
  • Bapak Kepala Desa and his family in Komodo island, thanks for letting me stay for one night in your house. Also thanks to all Komodo island villagers for the super hospitality.
  • Sirine (Switz), thanks for sharing one room in Ruteng and also to two Germany guys for sharing the bemo cost to see the ricefield in Ruteng.
  • Fridus in Bajawa. Thanks for all the help in Bajawa, to show me the traditional village with full explanation and also for all the talks we’ve had. Also to your warm and kind family for accepting me in your house. I was really happy to stay there and really appreciate your hospitality. I wish I can come back there in 2014 for the big ceremony of your village, and maybe to climb up Inerie mountain. Hahahaha ....
  • Marcus in Moni, the cute switz guy with green eyes... Thank God we didn’t share the room, that was so close... Hahahaha ....
  • Mbak Dewi di Ende yang membolehkan saya tidur di kamarnya selama 2 malam. Mbak Nita dan mas Hadi yang selalu memastikan perut saya kenyang selama di Ende. Mas Andy yang juga menyediakan kopi-kopi dan ikan bakar. Terima kasih juga untuk tiket gratis ferry-nya.. ;)
  • Yutmen, my dearest host in Kupang. Thanks for the place and food and companion during my stay in Kupang. Terima kasih juga untuk bang Al dan keluarga yang juga menampung kami (saya, Anto, dan Cliff), memastikan perut kami selalu penuh dan menghidangkan kopi-kopi hitam yang nikmat.

Terima kasih sekali lagi untuk semuanya. I love you full! J


Monday, August 12, 2013

BUKAN DONGENG KANCIL

Kancil bisa mendengar Pak Tani mengasah pisaunya di halaman belakang. Suara bilah pisau yang beradu dengan batu asah itu terdengar seperti gesekan busur biola pada dawai yang menyayat hati.

Kancil menendang dan meregang berusaha melepaskan ikatan di keempat kakinya. Tapi Gagal. Pak Tani membelenggunya dengan rantai besi bukan tali. Pak Tani tidak punya anjing peliharaan yang bisa ia kadali. Dan ia diikat di atas ranjang bukannya ditawan dalam kandang ayam.

Kancil semakin ketakutan kala suara pisau yang diasah berhenti digantikan oleh suara langkah Pak Tani. Ia dapat melihat kilasan dongeng hidupnya lewat di depan mata. Kancil membatin, “Beginikah rasanya kalah?”

SALAH ASUHAN

“Jadi? Sudah berapa lama kamu mengkonsumsi pil itu?”


“Ya sudah sekitar satu tahun lah.”


“Sejak kamu mulai pacaran?”


“Iya.” jawabnya malu-malu.


“Rutin?”


“Rutin dong! Tak pernah alpa sekalipun.” jawabnya pasti.


“Tapi kenapa?” tanya sahabatnya gemas.


“Karena Ibuku yang menyuruhku,” jawabnya polos. “Sejak Ibu tahu aku mulai dekat dan pacaran dengan laki-laki, Ibu menyuruhku minum pil KB secara rutin.”


“Tapi kamu kan belum pernah berhubungan seks sama pacar kamu ataupun orang lain!” Sahabatnya semakin gemas saja. “Atau jangan-jangan sudah?” Ia mulai ragu dan memicingkan mata penuh selidik.


“Apa?” Ratna tersentak mendengar pertanyaan sahabatnya. “Kamu sudah gila apa? Aku masih perawan tau!” 



Kiamat Sugra

Terkadang, saat aku merasa seluruh dunia memalingkan wajahnya dariku, aku berharap bumi ini berhenti saja berputar. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku bukanlah poros dunia. Sekalipun otakku berhenti bekerja karena satu dan lain alasan, atau meskipun setiap helai otot dalam tubuhku menolak bergerak, bahkan bila paru-paruku berhenti menghirup udara dan jantungku berhenti berdenyut; bumi masih akan berputar. Dunia belum akan kiamat.

Kiamat ini hanya milikku sendiri. Hanya aku yang bisa merasakan gelegak panas lava dalam dada yang kemudian membuncah dan mengaliri tebing-tebing wajahku sebagai sungai lahar. Lalu ada gigil yang serupa gempa yang meruntuhkan segala prinsip dan pegangan hingga tak ada lagi yang tersisa. Banjir air mata, keringat, dan darah yang seperti berasal dari mata air zamzam, tak pernah mengering, tak berhenti membanjir hingga hidupku terbenam sepenuhnya. Aku habis. Aku kiamat.

Matahari tetap terbit dan tebenam seperti tak pernah terjadi apa-apa. Penyiar radio tetap ceria. Orang-orang tetap menyesap kopinya dan pergi bekerja. Sementara aku sedang 'menikmati' mati.

Tuesday, August 6, 2013

JENDELA-JENDELA

Ada sebuah rumah boneka yang cantik. Rumah dua lantai itu cukup besar untuk ukuran boneka. Satu keluarga boneka tinggal di sana. Ada papa, mama, kakak laki-laki, dan adik perempuan. Mereka semua tampan dan cantik, dan yang terpenting mereka tampak bahagia.

Aku suka mengintip ke dalam rumah mereka melalui jendela-jendelanya. Dari sana aku tahu bahwa kebahagiaan mereka palsu belaka. Mereka tidak benar saling menyayangi sebab orang yang saling menyayangi tidak mungkin saling membohongi. “Betapa menyedihkannya keluarga mereka,” pikirku.

Belum lagi surut kesedihanku, tiba-tiba ada sesuatu yang menghalangi cahaya masuk dari jendela kamarku. Sebuah mata yang sangat besar tampak mengintip di sana. 




Monday, August 5, 2013

Pesawat Kertas

Pagi itu aku terbangun dengan perasaan yang tata letaknya berantakan. Ada rindu yang tak tersampaikan yang bikin kacau orbit ragam hati.

Meskipun berat, kucoba untuk beranjak dari peraduan. Kulempar pandang ke kelabunya langit Jakarta yang tampak dari pintu kaca lantai 22. Entah itu suara gemerisik daun yang dibuai angin, ataukah sebuah bisik yang merambat menembus pintu kaca? Nadanya persuasif dan datangnya dari arah balkon. Dengan tanya menggantung di kening, kuhampiri balkon yang jaraknya hanya lima langkah dari tempatku memintal mimpi.

Di sanalah, di balkon berukuran tidak lebih dari satu kali setengah meter, terdampar sebuah pesawat kertas.

Ah... Siapa gerangan yang mengirim pesawat kertas ini? Hatiku tak pelak bertanya-tanya. Sisi romantis dalam diriku sontak mengambil alih peran logika dalam situasi ini. Tak dapat kutahan bayangan tentang seorang pengagum rahasia yang diam-diam mengirim surat cinta lewat pesawat kertas. Adakah yang lebih romantis daripada perasaan yang dituangkan dalam bentuk huruf dan kata di atas selembar kertas; kertas yang kemudian dilipat di sana dilipat di sini hingga membentuk sebuah model aerodinamis; sebuah pengharapan kemudian ditiupkan ke moncong pesawat sebagai bahan bakarnya; lalu mengantarkannya kepada angin dan pasrah ke mana angin akan membawa terbang rasa di pesawat kertasnya?

Dengan khayalan tingkat tinggi kuhampiri pesawat kertas yang mendarat dengan sembarangan di balkon kamarku. Perlahan, dengan jantung berdebar dan darah berdesir, kuambil benda asing itu lalu hati-hati kubuka lipatan-lipatannya satu demi satu.

Oh, khayalanku langsung terjun bebas! Benda asing itu mungkin memang benar-benar datang dari luar angkasa. Belum pernah kutemukan surat cinta berisi simbol-simbol dan angka-angka yang menyerupai rumus persamaan matematika.

Sementara aku merutuki kebodohanku, tanganku membalik kertas itu dengan alami. Dan, di sanalah tertulis sebuah pesan yang aku sendiri tak yakin untuk siapa. Dua kata dan satu tanda baca: “miss me?


Note: Terinspirasi dari kisah nyata :)

Wednesday, April 3, 2013

Pulau Satonda (Series of Calabai)


Masih tentang Calabai, sebuah desa sederhana di kaki gunung Tambora. Selain sebagai salah satu pintu masuk untuk mendaki Tambora—gunung api aktif tertinggi kedua di Indonesia, sebelum meletus tentunya, Calabai juga merupakan pintu masuk menuju salah dua pulau tercantik di propinsi Nusa Tenggara Barat. Siapa pernah mendengar tentang Pulau Moyo dan Pulau Satonda?

Yang belum pernah dengar, tidak perlu berkecil hati. Saya pun baru tahu tentang Pulau Moyo pada saat sedang merencanakan perjalanan ini. Sedangkan Pulau Satonda? Baru pun saya tahu setelah terdampar di Calabai. Ini menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar surganya keindahan alam. Seperti tak kan ada habis-habisnya jika kita ingin menjelajahi semua tempat indah yang terbentang dari ujung ke ujung sejauh batas wilayah NKRI. Apa yang kita tahu tentang Indonesia barangkali tidak ada seujung kukunya kuku Bima. Atau ini hanya sekadar excuse dari saya yang memang kurang pengetahuan umum. *kembali ke perpustakaan*
Pulau Satonda dalam Peta
Pulau Moyo bisa jadi lebih terkenal dibanding Pulau Satonda, hanya lantaran Pulau Moyo pernah dikunjungi tokoh-tokoh dunia seperti Lady Diana dan Mick Jagger. Tapi saya yakin Pulau Satonda juga tidak kalah indah dengan Moyo (dari google image yang saya telusuri). Saya bisa menceritakan sedikit tentang Pulau Moyo (nanti di edisi terpisah), karena memang perjalanan kemarin dulu membawa saya ke sana. Tapi untuk Satonda, sayang sekali, seperti nasib saya pada Tambora, nasib saya pada Satonda pun berakhir pada angan-angan belaka. Saya hanya punya foto pulau itu dari kejauhan Calabai, tanpa mampu menginjakkan kaki di sana.

Saya dan Dua Pendekar Wanita Calabai Berlatarkan Pulau Satonda
Satonda adalah sebuah pulau kecil di sebelah utara pulau Sumbawa Besar. Saya melihatnya saat sedang menyeberang dari Pulau Moyo menuju Calabai. Di tengah perjalanan dengan perahu kecil yang saya sewa dari penduduk desa Lepaluang Pulau Moyo, Bapak pengendali perahu ini menunjuk-nunjuk ke arah Pulau Satonda seraya berteriak bangga. “Itu Pulau Satonda mbak! Mbak mau ke sana kan?” Dia pikir tujuan saya ke Calabai adalah untuk berwisata ke Satonda. Saat itupun saya belum tahu tentang Satonda, jadi saya hanya jawab, “Oh, iya, Satonda ya Pak? Hmm, belum tahu Pak, lihat nanti.” Sambil bertanya-tanya dalam hati, ada apa di Pulau Satonda?
Pulau Satonda dari Kejauhan Saat Menyebrang dari Moyo ke Calabai
Saat saya sudah berada di Calabai, barulah saya mencari tahu tentang pulau ini. Ada apa di Pulau Satonda? Saya ulangi pertanyaan saya, kali ini kepada teman penduduk Calabai yang sudah sering bawa tamu ke Satonda. Ada danau Satonda, katanya. Apa saja yang bisa dilakukan di sana? Tanya saya lagi. Ya jalan-jalan, lihat pemandangan, kemping, jawabnya. Apa ada penduduk yang tinggal di sana? Tanya saya lagi. Tidak ada, pulau itu sudah jadi kawasan konservasi. Ooo, bagaimana caranya kalau mau ke sana? Tanya saya lagi. Ya sewa kapal, jawabnya lagi. Oke, thanks, bye.

Hahahaha... Yeah, I was poor at that time. And I don’t think I can swim all the way from Calabai to Satonda. So, bye bye Satonda. I’ll see you next time, hopefully!

Meskipun saya tidak bisa menyambangi Satonda, saya jadi tertarik untuk tahu lebih banyak tentang pulau yang ternyata sudah jadi obyek wisata alam sejak tahun 80an. Dan seperti saya duga, kebanyakan turis yang menyambangi Satonda adalah turis asing. Biasanya mereka singgah di Pulau Satonda (dan juga Pulau Moyo) dalam perjalanan cruising dengan kapal dari Bali atau Lombok menuju Pulau Komodo.

Salah satu keunikan Pulau Satonda yang menjadi daya tarik wisatawan adalah danau yang berada di tengah-tengah pulaunya. Jika danau pada umumnya berisi air tawar, maka danau Satonda ini berisi air asin. Sejarahnya, Pulau Satonda adalah pulau vulkanis yang terbentuk akibat letusan gunung api dasar laut jutaan tahun yang lalu. Lagi-lagi gunung api. Pulau atau gunung api Satonda yang tidak seberapa besar ini pastinya pernah meletus juga sehingga menghasilkan kawah yang sekarang menjadi danau Satonda. Konon danau Satonda dulunya berisi air tawar, namun letusan Gunung Tambora yang cetar membahana ke seluruh dunia sekitar dua abad lalu mengantarkan gelombang tsunami ke Satonda dan seketika menggantikan air tawar yang ada di dalam danau, menjadikan danau itu berair asin hingga sekarang. Teori ini masuk akal karena letak Satonda yang sangat dekat dengan Tambora.

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan keindahan Satonda yang konon kondang di kalangan wisatawan mancanegara pun sedikit demi sedikit mulai luntur. Setelah membaca  catatan Satonda yang penuh cacat (catper KPCI) saya jadi sangsi jika suatu hari nanti saya punya kesempatan ke Calabai lagi dan membawa uang yang cukup untuk menyewa kapal ke Pulau Satonda, saya masih akan menemukan pemandangan seindah gambar-gambar yang ditunjukkan mbah Google image untuk keyword PULAU SATONDA.