Tuesday, August 6, 2013

JENDELA-JENDELA

Ada sebuah rumah boneka yang cantik. Rumah dua lantai itu cukup besar untuk ukuran boneka. Satu keluarga boneka tinggal di sana. Ada papa, mama, kakak laki-laki, dan adik perempuan. Mereka semua tampan dan cantik, dan yang terpenting mereka tampak bahagia.

Aku suka mengintip ke dalam rumah mereka melalui jendela-jendelanya. Dari sana aku tahu bahwa kebahagiaan mereka palsu belaka. Mereka tidak benar saling menyayangi sebab orang yang saling menyayangi tidak mungkin saling membohongi. “Betapa menyedihkannya keluarga mereka,” pikirku.

Belum lagi surut kesedihanku, tiba-tiba ada sesuatu yang menghalangi cahaya masuk dari jendela kamarku. Sebuah mata yang sangat besar tampak mengintip di sana. 




Monday, August 5, 2013

Pesawat Kertas

Pagi itu aku terbangun dengan perasaan yang tata letaknya berantakan. Ada rindu yang tak tersampaikan yang bikin kacau orbit ragam hati.

Meskipun berat, kucoba untuk beranjak dari peraduan. Kulempar pandang ke kelabunya langit Jakarta yang tampak dari pintu kaca lantai 22. Entah itu suara gemerisik daun yang dibuai angin, ataukah sebuah bisik yang merambat menembus pintu kaca? Nadanya persuasif dan datangnya dari arah balkon. Dengan tanya menggantung di kening, kuhampiri balkon yang jaraknya hanya lima langkah dari tempatku memintal mimpi.

Di sanalah, di balkon berukuran tidak lebih dari satu kali setengah meter, terdampar sebuah pesawat kertas.

Ah... Siapa gerangan yang mengirim pesawat kertas ini? Hatiku tak pelak bertanya-tanya. Sisi romantis dalam diriku sontak mengambil alih peran logika dalam situasi ini. Tak dapat kutahan bayangan tentang seorang pengagum rahasia yang diam-diam mengirim surat cinta lewat pesawat kertas. Adakah yang lebih romantis daripada perasaan yang dituangkan dalam bentuk huruf dan kata di atas selembar kertas; kertas yang kemudian dilipat di sana dilipat di sini hingga membentuk sebuah model aerodinamis; sebuah pengharapan kemudian ditiupkan ke moncong pesawat sebagai bahan bakarnya; lalu mengantarkannya kepada angin dan pasrah ke mana angin akan membawa terbang rasa di pesawat kertasnya?

Dengan khayalan tingkat tinggi kuhampiri pesawat kertas yang mendarat dengan sembarangan di balkon kamarku. Perlahan, dengan jantung berdebar dan darah berdesir, kuambil benda asing itu lalu hati-hati kubuka lipatan-lipatannya satu demi satu.

Oh, khayalanku langsung terjun bebas! Benda asing itu mungkin memang benar-benar datang dari luar angkasa. Belum pernah kutemukan surat cinta berisi simbol-simbol dan angka-angka yang menyerupai rumus persamaan matematika.

Sementara aku merutuki kebodohanku, tanganku membalik kertas itu dengan alami. Dan, di sanalah tertulis sebuah pesan yang aku sendiri tak yakin untuk siapa. Dua kata dan satu tanda baca: “miss me?”


Note: Terinspirasi dari kisah nyata :)

Wednesday, April 3, 2013

Pulau Satonda (Series of Calabai)


Masih tentang Calabai, sebuah desa sederhana di kaki gunung Tambora. Selain sebagai salah satu pintu masuk untuk mendaki Tambora—gunung api aktif tertinggi kedua di Indonesia, sebelum meletus tentunya, Calabai juga merupakan pintu masuk menuju salah dua pulau tercantik di propinsi Nusa Tenggara Barat. Siapa pernah mendengar tentang Pulau Moyo dan Pulau Satonda?

Yang belum pernah dengar, tidak perlu berkecil hati. Saya pun baru tahu tentang Pulau Moyo pada saat sedang merencanakan perjalanan ini. Sedangkan Pulau Satonda? Baru pun saya tahu setelah terdampar di Calabai. Ini menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar surganya keindahan alam. Seperti tak kan ada habis-habisnya jika kita ingin menjelajahi semua tempat indah yang terbentang dari ujung ke ujung sejauh batas wilayah NKRI. Apa yang kita tahu tentang Indonesia barangkali tidak ada seujung kukunya kuku Bima. Atau ini hanya sekadar excuse dari saya yang memang kurang pengetahuan umum. *kembali ke perpustakaan*
Pulau Satonda dalam Peta
Pulau Moyo bisa jadi lebih terkenal dibanding Pulau Satonda, hanya lantaran Pulau Moyo pernah dikunjungi tokoh-tokoh dunia seperti Lady Diana dan Mick Jagger. Tapi saya yakin Pulau Satonda juga tidak kalah indah dengan Moyo (dari google image yang saya telusuri). Saya bisa menceritakan sedikit tentang Pulau Moyo (nanti di edisi terpisah), karena memang perjalanan kemarin dulu membawa saya ke sana. Tapi untuk Satonda, sayang sekali, seperti nasib saya pada Tambora, nasib saya pada Satonda pun berakhir pada angan-angan belaka. Saya hanya punya foto pulau itu dari kejauhan Calabai, tanpa mampu menginjakkan kaki di sana.

Saya dan Dua Pendekar Wanita Calabai Berlatarkan Pulau Satonda
Satonda adalah sebuah pulau kecil di sebelah utara pulau Sumbawa Besar. Saya melihatnya saat sedang menyeberang dari Pulau Moyo menuju Calabai. Di tengah perjalanan dengan perahu kecil yang saya sewa dari penduduk desa Lepaluang Pulau Moyo, Bapak pengendali perahu ini menunjuk-nunjuk ke arah Pulau Satonda seraya berteriak bangga. “Itu Pulau Satonda mbak! Mbak mau ke sana kan?” Dia pikir tujuan saya ke Calabai adalah untuk berwisata ke Satonda. Saat itupun saya belum tahu tentang Satonda, jadi saya hanya jawab, “Oh, iya, Satonda ya Pak? Hmm, belum tahu Pak, lihat nanti.” Sambil bertanya-tanya dalam hati, ada apa di Pulau Satonda?
Pulau Satonda dari Kejauhan Saat Menyebrang dari Moyo ke Calabai
Saat saya sudah berada di Calabai, barulah saya mencari tahu tentang pulau ini. Ada apa di Pulau Satonda? Saya ulangi pertanyaan saya, kali ini kepada teman penduduk Calabai yang sudah sering bawa tamu ke Satonda. Ada danau Satonda, katanya. Apa saja yang bisa dilakukan di sana? Tanya saya lagi. Ya jalan-jalan, lihat pemandangan, kemping, jawabnya. Apa ada penduduk yang tinggal di sana? Tanya saya lagi. Tidak ada, pulau itu sudah jadi kawasan konservasi. Ooo, bagaimana caranya kalau mau ke sana? Tanya saya lagi. Ya sewa kapal, jawabnya lagi. Oke, thanks, bye.

Hahahaha... Yeah, I was poor at that time. And I don’t think I can swim all the way from Calabai to Satonda. So, bye bye Satonda. I’ll see you next time, hopefully!

Meskipun saya tidak bisa menyambangi Satonda, saya jadi tertarik untuk tahu lebih banyak tentang pulau yang ternyata sudah jadi obyek wisata alam sejak tahun 80an. Dan seperti saya duga, kebanyakan turis yang menyambangi Satonda adalah turis asing. Biasanya mereka singgah di Pulau Satonda (dan juga Pulau Moyo) dalam perjalanan cruising dengan kapal dari Bali atau Lombok menuju Pulau Komodo.

Salah satu keunikan Pulau Satonda yang menjadi daya tarik wisatawan adalah danau yang berada di tengah-tengah pulaunya. Jika danau pada umumnya berisi air tawar, maka danau Satonda ini berisi air asin. Sejarahnya, Pulau Satonda adalah pulau vulkanis yang terbentuk akibat letusan gunung api dasar laut jutaan tahun yang lalu. Lagi-lagi gunung api. Pulau atau gunung api Satonda yang tidak seberapa besar ini pastinya pernah meletus juga sehingga menghasilkan kawah yang sekarang menjadi danau Satonda. Konon danau Satonda dulunya berisi air tawar, namun letusan Gunung Tambora yang cetar membahana ke seluruh dunia sekitar dua abad lalu mengantarkan gelombang tsunami ke Satonda dan seketika menggantikan air tawar yang ada di dalam danau, menjadikan danau itu berair asin hingga sekarang. Teori ini masuk akal karena letak Satonda yang sangat dekat dengan Tambora.

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan keindahan Satonda yang konon kondang di kalangan wisatawan mancanegara pun sedikit demi sedikit mulai luntur. Setelah membaca  catatan Satonda yang penuh cacat (catper KPCI) saya jadi sangsi jika suatu hari nanti saya punya kesempatan ke Calabai lagi dan membawa uang yang cukup untuk menyewa kapal ke Pulau Satonda, saya masih akan menemukan pemandangan seindah gambar-gambar yang ditunjukkan mbah Google image untuk keyword PULAU SATONDA.

Monday, March 25, 2013

Tambora yang Mendunia (Series of Calabai)


Dalam perjalanan ke timur mencari kitab suci dan menyelamatkan sang putri, saya sempat singgah di salah satu desa yang ada di pulau Sumbawa Besar. Desa tersebut bernama Calabai. Kemungkinan besar tidak banyak pengembara yang mengetahui tentang desa yang termasuk dalam wilayah kecamatan Pekat – Kabupaten Dompu – Propinsi Nusa Tenggara Barat ini karena memang belum banyak promosi yang mengangkat desa ini sebagai salah satu tujuan wisata nasional.

Di balik kesederhanaan Calabai, sesungguhnya desa ini adalah pintu gerbang menuju tempat-tempat eksotik nusantara. Salah satunya adalah Gunung Tambora, gunung api yang kawahnya berdiameter 7 km. Saking besarnya gunung ini sampai posisinya mencakup dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima. Konon, sebelum meletus tinggi Gunung Tambora mencapai 4.300 mdpl, menjadikannya sebagai gunung api aktif tertinggi kedua di Indonesia setelah Puncak Jaya (Carstensz Piramid di 4.884 mdpl). Namun letusan dahsyat di tahun 1815 menghilangkan separuh gunung tersebut, menyisakan tinggi 2.851 mdpl dan menghasilkan kaldera yang menganga selebar 7.000 meter kurang lebih.

Hampir 200 tahun yang lalu seluruh dunia terkena dampak letusan dari gunung api tertinggi kedua di Indonesia ini. Letusannya memuntahkan lava panas bersama gas mematikan dan menewaskan sekitar 17.000 orang. Itu baru permulaannya, selanjutnya beberapa belahan bumi tidak mengalami siang karena 400 juta ton gas sulfur menguasai langit hingga mencapai 27 mil tegak lurus ke stratosfer dan menyebabkan gelap gulita sepanjang hari. Abu dan debu dari letusan Gunung Tambora melayang mengelilingi dunia, menyobek lapisan tipis ozon, dan menetap di lapisan troposfer yang beberapa tahun kemudian turun kembali ke bumi melalui angin dan hujan. Hujan tanpa henti selama delapan minggu memicu epidemi tifus dan menewaskan 65.000 orang di Inggris. Nah, tidak berlebihan kiranya jika ada yang menyebut ‘letusan Tambora mendunia’ (Agnes would say ‘Go International’)

Atas dasar sejarah itulah maka mendaki Gunung Tambora yang tinggal setengahnya sepertinya menjadi hal yang pantas atau perlu dilakukan. Dan seperti kisanak duga, salah satu pintu masuk ke gunung Tambora ini adalah melalui desa Calabai. Menurut pendekar-pendekar pendakian di Calabai yang tergabung dalam padepokan Pecinta Alam GAMPING, waktu tempuh naik-turun Tambora yang ideal dengan menikmati perjalanan dan pemandangan adalah 3 hari 2 malam. Tapi tentu saja waktu tempuh ini bisa dipotong jadi satu hari jika kisanak hanya bermaksud naik-turun tanpa tidur, atau malah bisa diperpanjang hingga satu minggu jika kisanak bermaksud mendalami ilmu bertahan hidup. Trek yang mereka janjikan adalah trek mudah, jalan setapak mendaki di antara lebat hutan tropis dan savana sesekali. Katanya, jika kisanak telah melalui trek Rinjani, maka trek Tambora bukanlah apa-apa. Ah, mengapa pula bandingannya Rinjani, sesal saya dalam hati.

Dan tidak lengkap rasanya cerita hutan dan gunung tanpa cerita mistis. Tersebutlah pendekar sakti mandraguna yang akrab disapa Om Cin (dari Cindai). Beliau sempat menceritakan kepada saya pula hikayat mengenai namanya, sayang saya tidak merekamnya dan sekarang saya lupa. Tapi, apalah arti sebuah nama? Dengan nama apapun, aura kesaktian Om Cin tetap saja sekuat aroma masakan lezat tengah hari di bulan puasa. Bahkan seluruh pendekar GAMPING pun mengakuinya. Om Cin telah keluar-masuk hutan, naik-turun Tambora sejak usia muda, sejak rambutnya masih gondrong dan gimbal. Beliau mengetahui persis seluk beluk gunung tersebut dan telah berkawan pula dengan para ‘penjaga’ Tambora. Ah, saya pun lupa bagaimana persisnya cerita-cerita seram di Tambora. Tapi sepertinya setiap gunung punya cerita yang kurang lebih sama saja. Pesan beliau, selama niat kita untuk ‘muncak’ (istilah pendekar Calabai untuk naik gunung) adalah baik, Insya Allah kita akan selamat.

Sayang sekali saat itu saya tidak berjodoh dengan gunung ini. Meskipun telah menghabiskan waktu bersemadi satu minggu di Calabai, saya tidak mendapat kesempatan untuk merayapi lereng-lerengnya. Yah, menyesal sebetulnya, tapi mungkin ini adalah pertanda bahwa saya harus kembali ke Calabai lain kali. Mungkin sambil mencari kitab suci lagi, atau malah tongkat sakti.

Oh iya, tahun 2015 akan ada perayaan (atau peringatan) 200 tahun meletusnya Tambora. Teman-teman padepokan GAMPING mengharap saya mau berlayar kembali dari pulau Jawa ke Calabai demi turut merayakan (atau memperingati) hari bersejarah itu. Bulan April 2015 jika saya tidak lupa, akan ada banyak kegiatan di sekitar desa Calabai dan Tambora berkenaan dengan peringatan ini. Kemungkinan besar GAMPING juga akan mengadakan pendakian massal ke Gunung Tambora. Jadi, jika kisanak berminat merayapi lereng gunung bersejarah ini dan melihat langsung kaldera selebar 7 km itu, saya anjurkan kisanak membuat kapal dari sekarang.

Dari Pulau Jawa kisanak dapat mendayung atau berlayar hingga Calabai atau naik pesawat terbang dengan tujuan Bima. Dari Bima kisanak boleh menumpang bis dengan tujuan Dompu, dan dari Dompu kisanak boleh menumpang bis lain lagi menuju Calabai. Saya tidak tahu berapa lama penerbangan dari Jakarta ke Bima, tapi dari Bima ke Dompu memakan waktu tempuh sekitar 2 jam, sedangkan dari Dompu ke Calabai memakan waktu sekitar 4 jam. Dengan dayung dari Pulau Jawa? *kalkulator error*

Kaldera Gunung Tambora
(Photo courtesy of Bang Chris)

Catatan tentang Calabai belum selesai sampai di sini. Nantikan kisah-kisah selanjutnya.

Tuesday, March 19, 2013

Indonesia Sempit?


“Ternyata Indonesia itu sempit ya?” Pendapat konyol ini saya ungkapkan saat lagi-lagi bertemu dengan orang (tourist or traveler) yang sama di beberapa tempat sepanjang Flores. Mulai dari Pelabuhan Sape, Labuan Bajo, Pulau Komodo, kembali ke Labuan Bajo, Ruteng, Bajawa, Ende, hingga ke Moni (Taman Nasional Danau Kellimutu). Jika saya melanjutkan perjalanan sampai ke Maumere dan Larantuka, bisa jadi saya juga masih akan bertemu mereka lagi. Yah, apa boleh buat? Rute tersebut memang rute wisata yang paling umum di Flores – mainstream istilah anak sekarang, se-mainstream rute Bali – Rinjani – Gili Trawangan.

Mainstream-short trip incaran turis lokal dan mancanegara adalah senang-senang di Bali, susah-payah di Rinjani, dan terakhir chill-out di Gili. Ini sudah yang paling mainstream. Apalagi kalau kita memilih stay di Gili Trawangan. Dengan mudah kita akan dapat mengenali wajah-wajah yang sebelumnya kita temui sepanjang jalur pendakian Rinjani. Saya sendiri dengan mudah menemukan teman-teman sependakian Rinjani di Gili Trawangan, bahkan sebelum saya menemukan tempat menginap. Padahal mereka telah tiba di Gili satu hari lebih awal (setelah 'turun gunung' yang mengakibatkan 'turun mesin', saya memilih istirahat di Senggigi satu hari lebih lama dari mereka ).

Nah, mainstream-longer trip would be: Bali-Rinjani-Gili-Sumbawa-Flores (bahkan mungkin sampai ke Alor). Teman yang saya temui di bis menuju Moni (seorang pria asal Switzerland yang hampir saja berbagi kamar dengan saya di Moni, ehm!), bertemu seorang Jerman di Rinjani, dan mereka bertemu lagi di Moni. Betul kan? Lo lagi lo lagi judulnya.

Well, sebetulnya tidak semua orang mengambil jalur yang sama sih. Ada yang memotong jalur Sumbawa dengan naik pesawat dari Lombok langsung ke Labuan Bajo. Yang ini jelas tujuannya adalah Pulau Komodo. Tipikal turis yang hunting spot diving atau snorkling. Sebagian turis memilih memotong jalur darat Sumbawa karena mungkin tidak ada obyek wisata di Sumbawa yang menarik bagi mereka. Kecuali bagi para peselancar, mereka mungkin tidak ingin melewatkan Sumbawa karena di Sumbawa Barat ada ombak-ombak ganas yang menunggu untuk ditaklukkan. Saya termasuk yang tidak melewatkan Sumbawa, bukan yang tipe peselancar juga sih. Hanya yang berusaha menyinggahi sebanyak-banyaknya tempat dengan seirit-iritnya budget. Hehehe ....

Beruntung saya keluar dari itinerary semula sehingga saya terhindar dari kutukan 4L (Lo Lagi Lo Lagi) yang berkepanjangan. Saya keluar dari jalur mainstream sementara dengan stay di Calabai (yang ini sama sekali bukan mainstream) selama satu minggu. Dengan begini saya tidak bertemu dengan turis-turis yang saya temui di Rinjani dan Gili Trawangan karena kemungkinan besar mereka telah loncat sampai ke Flores pada saat saya selesai bermeditasi di Calabai. Tapi begitu saya memulai kembali jalur mainstream dari Pelabuhan Sape, kutukan 4L itu tak mampu saya elakkan lagi. Kebanyakan bule yang satu ferry dengan saya dari Pelabuhan Sape akan saya temui lagi dan lagi hampir di setiap kota di Flores. Pasangan Perancis yang mengendarai motor dari Bali, dua orang pemuda dan seorang gadis 18 tahun asal Switzerland, seorang solo traveler asal Belanda yang beli motor di Jakarta, beberapa solo traveler dari Jerman, Switzerland, dan Austria. Mereka adalah teman seperjalanan (lebih tepatnya teman yang sering ketemu di jalan) sepanjang Flores.

Sayang sekali saya sama sekali tidak bertemu sesama traveler lokal sepanjang perjalanan di Flores. Semua turis yang saya temui di setiap persinggahan di Flores adalah turis mancanegara. Bahkan turis-turis mancanegara itu juga agak bingung melihat saya yang memperkenalkan diri sebagai turis lokal, ada di antara mereka.


Friday, February 22, 2013

Just A Glimpse...

A Glimpse Into 'Street Ballad: A Jakarta Story'



Street Ballad: A Jakarta Story



Tuips, pernah nonton film dokumenter??
Eh, sebentar, saya ubah pertanyaannya. Pernah nonton film dokumenter di bioskop? Iya, di XXI atau Blitz Megaplex..??

Kalau belum, mungkin bulan Juli nanti kita bisa mengalami nonton film dokumenter di bioskop. Bukan sekedar film dokumenter, tapi film dokumenter yang bagus!

Film dokumenternya sendiri adalah film lokal (Indonesia) meskipun disutradarai dan diproduseri oleh orang bule, Daniel Ziv. But, I myself don’t consider him as bule anymore since he already lived and worked in Indonesia for so many years and he speaks Bahasa very fluent.

Judul filmnya Jalanan (“Streetside”). Film ini adalah film dokumenter musik yang menceritakan kehidupan pengamen jalanan (pengamen bis lebih tepatnya) di Jakarta, Ibukota Indonesia. Ada tiga orang pengamen yang kehidupan sehari-harinya disorot oleh kamera Daniel, mereka adalah Boni, Ho, dan Titi. Dan mereka bukanlah pengamen sembarangan. Mereka pengamen yang stand-out, punya kepribadian, dan berkharisma.

Pada tanggal 5 Februari yang lalu saya diajak oleh seorang teman untuk datang ke SAE Institute di fX Jakarta menyaksikan pemutaran film Street Ballad (Balada Anak Jalanan) perdana di Indonesia (perdana yang dilihat banyak orang). Film berdurasi 52 menit ini adalah versi yang lebih pendek dan lebih bersih dari film Jalanan itu sendiri. Dibuat untuk keperluan film dokumenter TV di ITVS International dan PBS Television. Dan menurut Daniel, film ini mendapat sambutan yang cukup baik di Amerika sana. *applause*

Film Street Ballad fokus pada satu pengamen wanita yang bernama lengkap Titi Juwariyah. Selama empat tahun Titi diikuti oleh Daniel dan Meita—sang sound woman, ke manapun dia pergi. Bayangkan, empat tahun! Film ini merekam nyaris semua bagian dalam hidup Titi. Tidak hanya pekerjaannya yang melompat dari satu bis ke bis lain, tapi juga kehidupan pribadinya, dari sejak ia masih menikah sampai bercerai, dari Ayahnya masih ada sampai meninggal.

Ernest Hariyanto selaku editor mengaku cukup kesulitan dalam memilih kisah mana yang akan ditampilkan dalam film. Karena selama empat tahun shooting tentunya banyak hal yang dialami Titi dan kawan-kawan. Beberapa di antaranya sangat menyentuh atau bisa jadi sangat menginspirasi. Tapi alasan itu saja tidak cukup, Ernest harus membuat ceritanya mengalir, kisah yang dipilih harus berhubungan satu sama lain. Dan itu bukan pekerjaan mudah, butuh waktu dua tahun untuk mengedit semua video hasil rekaman Daniel selama empat tahun yang berdurasi total 200 jam!

Wow, itu berarti total waktu produksi film dokumenter ini adalah enam tahun, saudara-saudara...!!!

Berhubung ini adalah film dokumenter musik maka musik jadi bagian yang sangat penting dalam film ini. Meita Eriska yang dulunya juga seorang pengamen mendapatkan bimbingan dari Daniel sendiri untuk menjadi seorang sound woman dalam produksi film ini. Dan hasilnya luar biasa! She’s natural..

Sesi tanya-jawab setelah pemutaran film Street Ballad menjadi sangat menarik karena Titi hadir di sana, begitu pun Ho dan Boni. Dan tentu saja Titi yang menjadi bintang podium malam itu. Dia lah yang laris dihujani pertanyaan dari para penonton yang antusias ingin tahu bagaimana Titi berkenalan dengan Daniel? Apa Titi tidak merasa risih dibuntuti oleh Daniel hampir setiap hari selama empat tahun? Apa harapan Titi terhadap film ini? And so on and so on...

Malam itu saya pulang membawa sebuah kesan di hati saya. Sejak saat itu saya tidak bisa lagi melihat pengamen dengan cara yang sama.