Wednesday, October 17, 2012

Samgyetang


Ada yang tahu atau minimal pernah dengar kata “samgyetang”? Samgyetang sama sekali bukan kata dalam bahasa alay semacam “ciyus” atau “miapah”, ciyusan deh.. Hehe.. Samgyetang adalah salah satu masakan tradisional korea berupa sup ayam ginseng. Orang Korea biasanya memakan samgyetang pada tiga hari istimewa di musim panas, yaitu: chobok, jungbok, dan malbok yang konon merupakan tiga hari terpanas dalam setahun.

Kenapa saya tiba-tiba posting tentang masakan korea? Ini juga bukan lantaran gegar budaya Korea yang sedang menyergap Indonesia. Saya berbuat ini semata-mata mau membanggakan Ibu saya yang bisa masak samgyetang. Yup! Benar sekali, Ibu saya yang wanita sederhana dan kurang modern itu bisa masak makanan tradisional dari negeri ginseng. Hebat kan??? *bangga setengah mati*

Yah, meskipun apa yang Ibu saya masak mungkin jauh dari mirip bila dibandingkan dengan masakan aslinya. Tapi ini bisa dimaklumi karena Ibu saya memang tidak menggunakan resep asli dari Korea. Well, how would she know the recipe? She can’t even say the name correctly. Ibu saya menyebut samgyetang sebagai sanggeta. Begitulah yang beliau dengar dari sumbernya (Budhe saya – another modest woman in the family) dan begitu pula yang lidah beliau mampu lafalkan. Budhe saya ini bekerja sebagai juru masak di rumah orang Korea. Karena pekerjaannya lah beliau mengenal beberapa masakan Korea seperti kimchi dan samgyetang ini. Tidak jarang pula beliau memasak makanan Korea ini di rumah. Jadi, sebelum demam K-Pop melanda Indonesia, kami sudah sering makan kimchi sejak belasan tahun lalu… ;)

Jadi adik bungsu saya yang baru berulang tahun awal Oktober kemarin tiba-tiba ngidam pengen dimasakin samgyetang. Ibu saya pun lalu mengolah tiga ekor ayam menjadi simplified samgyetang. Saya sebut simplified karena memang bahan-bahan yang digunakan oleh Ibu saya jauh lebih sederhana dari resep aslinya. Biar nambah khasanah resep bagi yang rajin masak, berikut saya tuliskan resepnya:
Bahan Utama:
  • 1 ekor ayam utuh (450 ~ 500 gr)
  • 50 gr beras ketan
  • 1 biji buah berangan
  • 2 biji buah ginkgo
  • 1 akar ginseng basah
  • 2 buah kurma Korea
  • Daun bawang, sedikit garam dan lada
Bahan untuk Kuah:
  • 2 liter air
  • 10 gr jahe
  • 100 gr lobak
  • 10 siung bawang putih
  • 5 gr Gamcho (akar manis)
  •  5 gr Hwanggi (akar kuning)
Cara Memasak:
  1. Keluarkan bagian dalam perut ayam, bersihkan kemudian potong bagian buntut ayam
  2. Isi perut ayam dengan beras ketan yang sudah dibersihkan dan direndam 1 jam dalam air dingin
  3. Masukkan buah berangan dan ginkgo serta ginseng basah ke dalam perut ayam
  4. Kaki ayam disilangkan dan diikat dengan benang
  5. Rebus 2 liter air bersama jahe, lobak, akar manis, akar kuning, dan bawang putih selama 30 menit, kemudian bahan di dalam kuah dibuang kecuali bawang putih
  6. Masukkan ayam ke dalam kuah lalu direbus kembali di atas api besar selama 40 menit lali kecilkan api dan masak selama 10 menit
  7. Pindahkan ayam ke mangkuk, tuangkan kuah yang sudah disaring lemaknya, taburi daun bawang yang telah dipotong-potong, dan dibumbui dengan garam dan lada.
Catatan: Resep untuk satu orang.

Nah, bahan-bahan yang disebutkan dalam resep tersebut di atas tidak semuanya Ibu saya pakai. Mungkin karena beliau tidak bisa menemukannya di supermarket terdekat, atau bisa jadi memang beliau tidak tahu seluruh bahan tersebut. Bisa jadi juga resep tersebut sudah dimodifikasi oleh Budhe saya menjadi lebih sederhana sehingga lebih mudah dibuat.

Singkat cerita, Voila!! Jadilah tiga ekor ayam berisi nasi ketan yang berenang dalam kuah bersama ginseng dan akar-akaran entah apa di dalam sebuah panci besar di dapur Ibu saya. Sebenarnya ayam dan nasi ketannya sendiri nyaris tidak ada rasanya (hambar), maka orang Korea biasa memakannya dengan garam, lada, dan kimchi untuk rasa-rasa. Sedangkan adik saya lebih suka memakannya dengan saus cabe. Saya sendiri memilih memakannya dengan sambel ulek... :-9

So, kamu mengaku sebagai pengagum budaya Korea? Apakah Ibu kamu bisa masak makanan Korea? Ibu saya bisa doooong...!! :-P

Saturday, October 13, 2012

Ngeksis di Social Media Fest 2012


Sebagai anak twitter yang cukup aktif (11.600 tweets sejak 2009 lumayan lah yaa..?!), rasanya dosa aja kalo gak datang ke acara Social Media Festival 2012 yang kali ini diadakan di Gelanggang Renang Senayan. Maka di Sabtu siang yang panasnya nyaris tak termaafkan, saya niat banget setor muka ke event tahunan anak-anak Socmed ini. Niat banget karena saya ke sini naik Trans Jakarta (bukan taksi), dan berjalan kaki dari Halte GBK ke dalam Senayan. Pffiiuuhh… Lumayan jauh ya ternyata?! Etapi gak nyesel lho ke sini karena di luar dugaan ternyata rame banget!!

Saya pikir selama ini saya sudah follow cukup banyak akun komunitas yang keren-keren di twitter, tapi ternyata yang saya follow itu belum lah seberapa. Ternyata masih buanyak banget akun-akun keren yang selama ini saya gak tahu. Dari 130 komunitas yang meramaikan SocMedFest 2012 ini paling baru 5% nya saja yang saya kenal. Komunitas jalan-jalan aja ada kali 10 lebih. Secara hobby saya jalan-jalan, jadi yang pertama dituju pasti booth-booth ini, hehe... Belum lagi komunitas lingkungan, komunitas hobi, dan komunitas gerakan social yang jumlahnya juga banyak. Hebat! Salut deh sama anak-anak muda Indonesia dan pengaruh sosial media di kehidupan masyarakat kita.

Ada juga satu komunitas yang bukan jalan-jalan tapi sangat menarik perhatian saya, yaitu “Indonesia Berkebun”. Boothnya kreatif banget dihias sama bunga-bunga dan tempat sampah daur ulang. Segala hal yang berbau daur ulang saya suka! Mereka juga menyediakan permainan tradisional congklak loh.. Kita bisa nostalgia masa kecil sambil numpang duduk lesehan di depan booth mereka.. J


Hmm, sambil lihat-lihat booth komunitas saya juga menyempatkan diri mampir ke booth Acer. Soalnya emang lagi ada rencana pengen beli laptop baru sih.. (horang kayah!). Booth Acer terang banget dan rame! Cukup mencolok di antara booth-booth tetangganya karena terlihat paling lux.



Dan ternyata promo yang ditawarkan di booth Acer ini sangat menggiurkan. Ada cashback Rp. 500.000,- plus narik lucky dip dari fish bowl yang isinya minimal voucher Rp. 100.000,-. Nah, udah minimal dapet korting Rp. 600.000,- aja donk! Apalagi laptop yang saya incar (Acer Aspire S3 Ultrabook ) menawarkan lagi banyak free bonus, termasuk free external DVD dan converter HDMI to VGA (ngeces). Ini laptop tuh langsing banget, lebih langsing dari saya pastinya. Dan layarnya lebih besar dari yang saya punya sekarang (13.3”). Looks light, warnanya kalem dan modelnya sophisticated. Di luar itu, eh di dalam itu, processor dan memorinya mumpuni banget buat saya. Tapiiii…. Huufftt.. Apa daya isi dompet belum mengijinkan untuk beli-beli lagi.. Hiks!


Dan sodara-sodara sebangsa dan seranah twitter, ada bocoran nih... Di booth Acer ini ada dipajang produk Acer yang baru mau akan dilaunch sekitar akhir Oktober nanti. Bahkan harganya belum keluar! This is like Acer's Top Secret... Sssttt.. Konon laptop yang bakal menyandang nama Acer Aspire S7 (kakaknya S3 dan S5) ini dibuat untuk Windows 8! Kelihatan sangat canggih dengan fitur touch screen. Warnanya putih (one of my favorite color) dan modelnya jauh lebih canggih lagi dari adik-adiknya. Langsung ngeces maksimal. Hmm, kira-kira bakal dibandrol di harga berapa yaaa??? (cek limit CC dan kemudian tertunduk lesu). Sayang gak sempat foto penampakannya secara tadi rame banget di sekitar situ. Pada norak deh nih orang-orang liat laptop touch screen, termasuk saya juga sih... Hehehe...






Monday, October 1, 2012

I've Loved You Before I Met You


Kamu boleh percaya boleh tidak pada apa yang akan kukatakan. “I’ve loved you before I met you”. Mirip lirik lagu? Yah begitulah.. Gombal? Sayangnya gombal hampir selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang tidak benar, jadi aku menolak disebut gombal. Karena apa yang barusan kukatakan memang benar seutuhnya, tidak ada yang dilebih-lebihkan.

Aku mencintaimu bahkan sebelum ruh kita ditiupkan ke dalam tubuh. Jangan tanya dengan apa aku mencintaimu tanpa ruh, karena aku pun tak tahu. Mungkin saja gumpalan dagingku nyaman berada dekat dengan gumpalan dagingmu, sesederhana itu. Kamu lihat? Bahkan sebelum tubuh kita mempunyai bentuk, aku sudah tahu kalau kamu ada di sisiku.

Setelah kita sama-sama punya tangan, kita bisa saling menyentuh. Aku suka menyentuh tubuhmu. Tidak, ini bukan kurang ajar, ini kasih sayang. Waktu itu kita juga berbagi makanan yang sama. Ingatkah kamu? Aku sering mengalah padamu soal makanan ini. Aku rela kamu dapat bagian lebih banyak. Aku senang melihat pergerakan perutmu setiap kali kamu merasa kenyang, itu luar biasa lucu! Sekaligus menenangkan.. Kamu harus makan banyak karena kamu perlu energi untuk bertahan di sana, juga untuk keluar dari sana. Bukannya aku tidak butuh, tapi kan aku sayang kamu. Jadi wajar saja kalau aku mendahulukanmu.

Kita berbagi kekhawatiran yang sama saat itu. Apakah kita berdua bisa keluar dari sana hidup-hidup? Aku bisa merasakan kamu demikian gelisah hingga tubuhmu bergetar hebat, sepertinya aku bisa melihat air mata di sudut matamu yang tepejam. Entahlah, aku tidak yakin. Tapi dengan perasaan yang juga berguncang, kusentuh tubuhmu pelan dan kukirimkan pesan melalui sentuhan, bahwa tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku akan melakukan apapun untuk menjagamu dengan segenap kemampuanku.

Pada suatu hari di bulan September, kamu mengatakan bahwa hari  itu adalah hari baik. Entah dari mana kamu tahu kalau itu hari baik, mungkin arwah-arwah leluhur yang membisikkannya di telingamu. Kamu bilang kamu ingin hari baik itu jadi hari yang bersejarah bagi kita berdua. Dan begitu saja kita memutuskan untuk mengakhiri persembuyian kita dan keluar melihat dunia yang cahayanya menyilaukan.

Apa yang terjadi kemudian di hari itu aku tidak terlalu bisa mengingatnya. Aku hanya ingat mereka – tangan-tangan besar yang licin dan berbau aneh, mengambilmu lebih dulu. Aku bisa mendengarmu meneriakkan namaku – padahal saat itu aku belum punya nama, tapi aku tahu kamu memanggilku dalam jeritan nyaring dengan nada yang berulang-ulang. Mungkin kamu takut berpisah dariku. Saat itu aku merasa seperti mau mati. Ruhku hendak beranjak meninggalkan tubuhku. Aku tak bisa membalas panggilanmu, aku begitu lemah. Aku begitu takut akan kehilangan dirimu. Lalu aku berharap – saat itu aku belum bisa berdoa, sangat berharap agar aku bisa bersamamu lagi. Dan harapanku terkabul. Kita berdua lahir dengan selamat di hari baik pada bulan September.

Kenangan purba tentang hangatnya rahim dan kebersamaan denganmu di dalamnya kerap muncul dalam momen-momen dejavu. Karenanya aku tahu aku memang mencintaimu sejak mula dulu. Tapi semenjak hari baik dulu itu, kita dipisahkan oleh tembok tak kasat mata bernama norma. Mereka bilang kita tak semestinya saling mencintai. Bukan, bukan begitu. Maksudnya, kita boleh saja saling mencintai, tapi tidak dengan cara yang kita yakini. Kamu adalah adik kandungku – karena kamu keluar lebih dulu, jadi aku hanya boleh mencintaimu sebagai kakak. Kita dilarang mencintai dengan keintiman yang dulu kita miliki di dalam rahim.

Kamu tahu Dik? Kita tak mungkin bersama. Bukannya aku tak mau memperjuangkan kita, tapi dinding yang melingkupi kita kali ini jauh lebih keras dan liat dibanding dinding tempat kita bersemayam dulu. Dinding yang ini tak mungkin kita lawan. Kamu tak ingin membuat Ibu terluka, bukan?

Dengar Dik.. Kita tak bisa bersama, tapi aku ingin kamu mengingat kalimatku ini: I’ve loved you before I met you… And I will always love you until we meet again in the afterlife…


With Love,
Your brother

Sunday, September 30, 2012

Piramida Tawuran

Miris rasanya membaca atau mendengar berita tentang tawuran antar pelajar. Apalagi kalau sampai memakan korban jiwa. Tidak terbayangkan perasaan orang tua korban tawuran yang mungkin sudah susah payah menyekolahkan anak mereka dengan harapan suatu hari nanti bisa jadi “orang”, jadi kebanggaan keluarga, atau setidaknya mampu berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, anak yang dihujani harapan tersebut mati konyol di tangan anak-anak sebayanya, atas dasar entah apa.

Peristiwa mengenaskan tersebut membuat saya menengok ke belakang. Apa yang saya lakukan dulu saat saya seusia mereka? Apakah saya terlihat sama seperti mereka? Bagaimana tawuran di mata saya waktu itu?
Seperti sebagian besar dari kita, saya pernah juga SMA. Dan kadang saya juga melihat tawuran. Tapi beruntung sekolah tempat saya belajar bukan peserta aktif tawuran antar sekolah. Meski pernah juga kami tawuran dengan sesama penghuni sekolah, kakak kelas. Tapi yah, hanya sebatas kejar-kejaran di sekitar sekolah, dengan ending kami semua dikejar oleh Guru BP. Hehehe…

Di mata anak-anak STM atau SMA lain, kami mungkin terlihat culun, cupu kata anak sekarang. Karenanya tidak pernah ada sekolah lain yang menantang kami untuk tawuran. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka tidak berani mengganggu kami. Karena walaupun penampilan kami cupu, setiap hari bawa gunungan buku, tapi mereka tahu kami bisa jadi sangat berbahaya.

Kami adalah anak-anak yang kesehariannya berkutat dengan bahan-bahan kimia. Kami bisa saja membuat sebuah bom sederhana, atau paling tidak kami punya larutan asam pekat yang akan memakan apapun yang dikenainya. Kalau sampai kami harus turun ke jalan (baca: tawuran), maka saat anak-anak dari STM membawa parang, celurit, samurai, atau gir bersabuk, kami cukup membawa pistol air yang berisi asam pekat. Dijamin kami pasti menang! Tapi tolong jangan dicontoh ide konyol ini ya adik-adik. Percayalah, mendapatkan asam pekat itu tidak semudah mendapatkan asam cuka.

Anyway, tawuran antar pelajar telah menarik perhatian banyak pihak. Bola panas dilemparkan ke sana ke mari mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas trend brutal tersebut. Katanya ini adalah tanggung jawab Sekolah dan para Guru, ada juga yang bilang ini tanggung jawab pemerintah terutama Dinas Pendidikan yang dianggap gagal menciptakan sistem pendidikan yang berperikemanusiaan. Lebih jauh lagi ada yang mengatakan bahwa masyarakat juga ikut bertanggung jawab karena membiarkan hal berbahaya itu terjadi di depan mata. Media yang tidak mendidik dan kerap menampilkan kekerasan juga ikut dipersalahkan atas pengaruhnya yang sangat kuat pada mereka. Orang tua atau pihak keluarga dari anak-anak yang tawuran (termasuk korbannya) juga tidak luput dari tudingan tidak mampu mendidik anak-anak mereka.

Lalu bagaimana dengan anak-anak itu sendiri? Anak-anak yang berlarian sambil membawa senjata tajam atau mengambil dan melemparkan batu-batu di jalan? Anak yang berhasil lari lebih cepat dari lawannya dan dengan tangannya sendiri menebas atau menikam atau memukul anak lain yang dianggap musuhnya. Apakah mereka tidak bisa disalahkan?

Kita sepertinya sepakat bahwa apa yang anak-anak itu lakukan adalah tanggung jawab orang-orang yang ada di sekitarnya, termasuk dalam lingkup lebih luas, tanggung jawab Negara yang ditinggalinya. Mengapa harus begitu? Padahal secara usia mereka sudah bukan anak-anak lagi, mereka sudah remaja (bila tidak bisa dibilang dewasa). Bukankah seharusnya di usia tersebut mereka sudah bisa membedakan yang baik dan yang buruk? Mereka sudah tahu dan paham bahwa menyerang orang lain apalagi sampai menyebabkan kehilangan nyawa adalah sebuah kejahatan dan tidak sepatutnya dilakukan. And they do it anyway, in a  mob…

Seorang pelajar yang diduga bertanggung jawab atas kematian salah satu korban tawuran dan kemudian tertangkap mengaku PUAS telah membunuh pelajar lain yang ia anggap sebagai lawannya. Dia PUAS! Dan saya yakin kita semua lemas mendengarnya. Ini jelas sebuah kejahatan yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan niat. Niat untuk membunuh dan kepuasan setelah berhasil itu datang dari seorang anak usia sekolah menengah. Apa yang Anda pikirkan?
Jika kita menganalogikan fenomena ini menjadi sebuah bagan piramida seperti “Piramida Kecelakaan” yang biasa digunakan oleh divisi K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) sebuah perusahaan, maka kita akan mendapat gambaran sebagai berikut:


Dalam piramida kecelakaan, puncak piramida ditempati oleh Fatality atau kecelakaan kerja yang menyebabkan kematian. Di bawahnya adalah kecelakaan yang mengakibatkan Lost Time atau kehilangan waktu kerja tapi tidak menyebabkan kematian. Di bawahnya lagi adalah kecelakaan yang terjadi tapi tidak menyebabkan lost time maupun fatality. Di bawahnya lagi adalah Near Miss atau kejadian hampir kecelakaan, tapi tidak menyebabkan kecelakaan, hanya nyaris celaka (dalam dunia K3, semua hal ini idealnya tercatat dan terukur). Dan yang paling bawah adalah Unsafe Acts and Unsafe Condition yaitu keadaan tidak aman (tempat, alat, prosedur, sistem kerja) dan tidakan tidak aman.

Satu kali tindakan tidak aman dilakukan dalam pekerjaan mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa. Tapi jika tindakan tidak aman itu terus dilakukan maka suatu hari near miss pasti terjadi. Demikian juga near misses yang dibiarkan akan menyebabkan insiden, begitu seterusnya hingga suatu hari semua keadaan itu akan menyebabkan satu kematian. Dengan kata lain, satu fatality adalah akibat dari banyaknya tindakan tidak aman yang terus menerus dilakukan.

Nah, demikian kita bisa melihat fenomena adanya kejahatan yang dilakukan oleh seorang pelajar dianalogikan dalam piramida. Pemerintahan sebagai fondasi dari piramida memegang peranan penting dalam penciptaan seorang kriminal muda. Ignorance yang berkelanjutan dari bawah menyebabkan kegagalan-kegagalan elemen di atasnya hingga mencapai puncak piramida.

Tapi perbaikan yang harus dilakukan tetap dimulai dari pribadi si anak sendiri. Ia adalah orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan dengan tangannya sendiri. Kemudian keluarga sebagai lingkaran yang paling dekat dengan dirinya seharusnya bisa memberikan pengaruh yang baik. Disusul dengan institusi sekolah dan masyarakat, termasuk media. Kemudian pemerintah sebagai otoritas penyusun sistem pendidikan. Ini adalah PR bersama, dan sudah seharusnya dikerjakan bersama-sama pula.



Tuesday, September 25, 2012

Fiksimini Selection


TGIF (Thank God It’s Fiksimini!). Terima kasih Tuhan, ini Fiksimini! Dan terima kasih juga untuk salah satu teman saya di dunia maya, sebut saja Reza, yang menaruh perhatian terhadap karya-karya FM saya. Kalau bukan karena dia, mungkin saya tidak akan repot-repot mengumpulkan remah-remah FM yang tidak seberapa dibanding jumlah tweet saya yang sudah mencapai sebelas ribuan (cerewet juga ya ternyata?!), hehe..

Saya sadar saya bukan fiksiminier handal. Bahkan dari enam halaman kumpulan FM yang saya hasilkan sejak 2010, hanya satu setengah halaman saja yang menurut saya layak untuk dimasukkan ke dalam kumpulan “Fiksimini Selection”. Mudah-mudahan kumpulan selektif ini tidak dianggap sebagai niat menyombongkan diri. Yakali ada yang menganggap saya berlagak seperti penyanyi populer yang mengeluarkan album “The Best”. Hahahahaa… Tapi maaf, yang terjadi justru sebaliknya. Saya tidak punya apapun yang bisa saya sombongkan. Kalau boleh jujur sebenarnya saya minder bukan kepalang. Saya adalah orang yang sangat tidak percaya diri apalagi kalau menyangkut yang ini (tulisan, fiksimini, dsb). Tapi saya harus menebalkan mental. Kalau tulisan saya tidak pernah dibaca orang, bagaimana saya mau belajar? Bagaimana saya bisa tahu mana yang salah dan mana yang perlu perbaikan?

Maka demikianlah Fiksimini Selection ini akhirnya muncul. Sebagaimana genre dalam sinema, FM Selection ini saya bagi dalam empat kategori: Misteri/Horor, Drama Percintaan, Komedi, dan Drama Keluarga. Susunan FM dalam setiap kategori tidak berurutan alias acak. Juga tidak disusun berdasarkan topik yang serupa, completely random. Tapi kalau kamu berhasil menemukan benang merah dari masing-masing kalimat, berarti kamu hebat!

Kalau saya bilang saya berharap FM-FM ini dapat menyentuh kalian, itu berlebihan. Maka saya hanya berharap kalian dapat menikmatinya, mengerti jalan ceritanya, membayangkan adegannya, merasakan ledakannya (jika ada). Kalaupun tidak, saya harap kalian sudi memakluminya.
Anyway, dengan segala kerendahan hati, saya persembahkan my very own Fiksimini Selection... Enjoy..!!

Misteri/Horor:

Funeral song played in my wedding day. It was not unintended. I marry a dead man. Yes, I do.

UNDANGAN UNTUK DUA ORANG. Aku mengajak mendiang suamiku.


ADIL. Di meja makan, ibu dan ketiga istri Ayah yang lain masing-masing mendapat seperempat bagian jantung Ayah di atas piring.

LULLABY. It's 2 AM and heavy rain. Mom couldn't get out from her grave. The kid still awake waiting for her lullaby.

TERBANGUN DI SISI IBU. Senang, kupeluk ibu erat-erat. Tak peduli udara pengap dan tanah lembap menimbun peti tempat kami berbaring.

JANIN. "Jangan!" Aku teriak sekuat tenaga, Ibu tak mendengar. Suaraku hanya memantul dari dinding ke dinding. Ibu tetap membunuhku.

Bayi itu sudah menangis sekencang yang ia mampu, tapi ibunya tetap menekan tombol siram di toilet itu.

BABY BLUE. Laki-laki itu sangat bahagia atas kelahiran putra pertamanya. Terlalu bahagia hingga lupa menguburkan istrinya. 

AYAHKU PELAWAK YANG SANGAT LUCU. "Jangan pernah tertawakan pekerjaan Ayah!" Katanya geram sambil menjahit mulutku.

"Ayah, mengapa hujan hanya turun di sawah tetangga saja?" | "Karena Dewa hanya menerima tumbal perawan, dasar sundal!!" PLAAKK!!

Drama Percintaan:

"AKU SUKA KAMU. MAUKAH KAMU JADI PACARKU?" Kakak itu tersenyum mendengarku kemudian mengacak rambutku. "Sana main lagi dik.."

Setangkai mawar merah jambu yang kuselipkan dalam tas sekolahnya, seketika layu saat ia pulang bersama Pak Guru.

MALAM MINGGU DI BANGKU TAMAN. Bayanganku asik bercumbu dengan wanita di ujung bangku.

WAYANG-WAYANGKU. Kuletakkan ia di tempat tidur. Aku gemetar melepas baju tidur. Wajahku merona. Malam ini giliran Arjuna.

PERNIKAHAN BEDA AGAMA. "Setidaknya kita punya satu kesamaan. Kita sama-sama perempuan" | "Menurutmu Tuhan akan memaafkan itu?" | *hening

DISKON BESAR-BESARAN. Tinggal hatiku yang belum terjual.

Komedi:

SENDAL JEPIT. Sudah puluhan mesjid, belum ada yang cocok.

KOLEKTOR BENDA KUNO. Mas Donny memandangi nenekku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

SURGA KE KANAN. Maaf, sedang perbaikan jalan.

Koruptor: Saya takut masuk neraka | Setan: Tenang Pak, saya punya koneksi di sana. Nanti Bapak boleh dapat kamar yang ada AC-nya.




Drama Keluarga:

A father bought a beautiful music box for his little daughter. The cheap one with no sound. "Doesn't matter, she is deaf."

BELUM PUAS MEMARAHIKU. Setelah aku menjadi tuli, Ayah membelikanku sepasang telinga baru.

Seno gemetar menggenggam kertas hasil ulangan. Nilainya sempurna. Ayah mungkin akan memberinya hadiah, DI DALAM KAMAR.

Ayah selalu tegas dengan JAM MALAM. Kami dikeluarkan pukul sembilan. Target setoran harus tercapai sebelum pagi menjelang.

DIAM ITU EMAS. Ketika aku pulang hanya membawa perak, keheningan di dalam rumah pecah dan riuh rendah.

HARI IBU DI PASAR IBU. Ramai sekali. Aku membeli ibu baru, kali ini yang pandai bernyanyi.

DI RUMAH BORDIL. Ayah tak mungkin mengenaliku, aku sudah berubah. "Lastri..?" Ayah memanggilku dengan nama Ibu.

ORKESTRA JALANAN. Tak ada nyanyian yang keluar. Hanya suara keroncongan dari perut anak-anak yang tertidur di emperan.

ANAK JALANAN. "Ngapain kita di sini kak?" | "Cari duit buat makan" | "Duitnya yang kertas aja ya kak, biar gampang ngunyahnya."

SATU KAKI DI DALAM REL, SATU KAKI DI LUAR REL. Sementara deru suara kereta telah terdengar di kejauhan, ia masih ragu memutuskan.

SEPEDAKU MALANG. Sejak kecelakaan maut itu ia tak pernah lagi mau kukayuh.

Dengan ekstra hati-hati kupotong kabel merah. Sepersekian detik kemudian, ayah berhenti berdetak, tangis ibu seketika MELEDAK.

PELURU TERAKHIR. Untuk siapa? Untuk ibu yang sudah sekarat memohon mati? Atau untuk ayah keparat yang sudah bikin ibu begini?

KUMPUL KELUARGA DI HARI RAYA. Masih dengan pertanyaan yang sama: "kapan kamu akan pindah agama?"


Fin...


Thursday, September 20, 2012

Welcome Aboard

Akhirnyaaaa....

Sampai juga saya di blogspot. Atas bantuan teman seperjuangan tapi tidak sedarah meskipun mirip, Saudari Theresia Suganda, akhirnya saya "Kembali ke Fitri".. :)
Semoga saja blog ini ada gunanya, setidaknya untuk saya pribadi, sebagai ruang penyimpanan tulisan-tulisan yang belum rapi, bahkan mungkin belum berarti..

Selamat datang Fitri.... Mari kembali ke Fitri...